Kicau-kicau Senyuman
“Dina, aku
mencintaimu” ucap Fandi. Ucapan itu membuat Dina terkejut. Menamparkan pandangan
ke arah Fandi yang terduduk berlawanan dengannya. Sementara burung-burung yang
terbang sejenak berhenti atas gelombang suara itu.
“Fandi? Masih sadarkah
kau?” sahut Dina dengan kernyitan di keningnya.
“Aku selalu
sadar atas ucapanku, Dina.” Jawab Fandi sambil memegang kedua tangan Dina.
“Jika memang
benar kau mencintaiku. Apa yang akan kau buktikan di kanvas pandanganku, hatiku
dan kenanganku?” Dina mencerca pertanggungjawaban atas pernyataan Fandi.
“Aku akan
belajar lebih giat. InsyaAllah Fandi akan membuat semua orang bangga dan
bahagia. Termasuk engkau, Dina.” Kecupan manis mendarat di pesisir punggung
tangan Dina. Sementara Dina hanya tersenyum dalam haru. Hingga derai airmata
nya menjalar di pipinya.
Tiba-tiba
seorang laki-laki datang. Bertubuh besar dan garang. Kumis tebal menggaris di
atas bibirnya. Rambutnya di kepalanya mulai memutih. “Anak sama Ibu sama saja.
Terlalu banyak menonton film dan sinetron. Jadi begini, sedikit-sedikit dibuat
drama” lelaki paruh baya itu mengangkat bibir bagian atas sebelah kanan. Sehingga
terlihat sinis memandang mereka.
“Hem. Ayah
tahu saja kalau kita lagi sandiwara ckckckck” Bu Dina menjawab pernyataan
lelaki berkumis yang tak lain adalah suaminya.
Riuh tawa di antara
mereka bertiga. Seolah pagi yang masih dingin itu menjelma menjadi hangat. Tak terkecuali
burung-burung. Mereka pun tertawa dengan kicaunya.
#FlashFiction







0 komentar:
Post a Comment