Gerakan Menuju Pos Cita-cita "Cerpen, Puisi, Traveller, Motivasi dan Gaya Hidup menjadi tautan asa dalam sebuah Selasar Nektar Kata"

Semesta

Friday, May 26, 2017

Berselimut Hujan


Ketika semburat pagi disambut dengan tatapan sinis mentari. Perlahan merangkak menuju terik yang mencurigakan. Saat sang surya benar-benar tergelincir dari deklenasinya, awan hitam mulai berarak membentuk sebuah perangkap. Dan benar saja, sekejap surya lenyap dalam pengap dihimpit oleh awan  awan kedap suara. Sekalipun surya teriak memohon pertolongan, percuma saja. Dia sangat pasti telah hanyut ditelan waktu.

"Bagaimana? Mari berdoa dahulu sebelum kita berangkat." Saya, Reza Kipli, Sartono WB, Wahyu, Ferdian, Nurdin Al-Bidengah, Mahmud, dan Edi Santoso (Tuan Rumah) memacu tunggangan masing-masing. Tujuan Kami adalah menanam dan mengikat tali silaturahmi kepada keluarga Edi Santoso yang berada di Padang Dalom, Liwa, Lampung Barat.

Kami berdelapan berangkat dengan empat motor. Jadi, kami saling berboncengan. Berangkat dari Kota Metro, kota yang terkenal dengan sebutan Kota Pendidikan. Kota yang begitu mungil dengan dipenuhinya sekolah-sekolah hingga kampus-kampus hampir di setiap sudut kota. Namun, sebenarnya tidak terlalu tercermin sebagai kota yang dimaksud. Itu sangat bisa dilihat dari sepi nya pengunjung di Perpustakaan daerah. Bisa dibilang yang katanya kota Pendidikan, tapi minat baca masyarakatnya masih kurang. Dan semoga saja masyarakat segera sadar pentingnya membuka jendela dunia. Tak lupa untuk Pemerintah Kota, semoga mereka bisa memfasilitasi.

Perjalanan kami semakin seru, manakala hujan benar-benar mengguyur kami. Ya. Mulai dari Kotabumi hujan menderas. Memasuki daerah Bukit Kemuning, hujan sedikit mereda. Hanya ada gerimis kecil menghiasi. Ada yang unik di sini. Perjalanan kami kali ini disuguhi pelangi yang amat sempurna. Wajar saja cahaya senja membiaskan bulir-bulir air. Tak lupa kami bersyukur atas kenikmatan ini. Indah pelangi mencolek perasaanku yang diwarnai oleh cinta. Cinta yang belum berani aku ungkapkan. Cinta yang hanya akan aku ungkapkan di depan orang tuanya. (Baper)

Kami mulai merasakan dingin yang sesungguhnya. Senja telah ditelan oleh kegelapan. Namun tak juga reda. Wilayah bukit memang selalu menyuguhkan hawa dingin. Jalan yang penuh lika-liku menemani kami disepanjang jalan. Bayangkan jalan aspal yang kita lalui seperti kaca, yang mengkilap ketika tersorot lampu motor. Perjalanan kami diapit oleh jurang dan bukit yang sewaktu-waktu bisa saja menjadi bencana. Namun kami tetap fokus. Sekalipun beberapa kali kami kedinginan hingga menusuk tulang belulang. Kemeretak gigi menggigil mengantarkan kami di Sekala Beghak. Di sebuah masjid yang gagah berdiri di atas bukit. Untuk sekedar mampir buang air kecil. Dan kebetulan ada warung juga di sampingnya. Sebenarnya kami berniat shalat. Namun apa daya pakaian yang basah tak mampu untuk melangkahkan kaki ke sana. Kami pesan kopi untuk menghangatkan badan. Namun naas apalah daya, kopi yang sebegitu panas beserta mie instan terasa biasa saja. Seolah lidah kami mati rasa. Kami juga tak paham akan asap yang mengepul pada segelas kopi itu asap karena hawa dingin atau panas. Kami benar-benar tak bisa membedakannya.

Gelap semakin mencekam. Memaksa kami untuk segera sampai. Salah satu teman kami ada yang bergumam, "Kok lama banget ya? Pikirku tadi cuma dua jam dari Metro? Aku lo cuma bawa baju satu stel" Nurdin Abdullah namanya. Berhubung kami kedinginan, maka kami bully dia dengan ucapan, "dasar Ustadz Bidengah". Jalan-jalan yang tersorot lampu motor menjelma seperti mie instan yang baru saja menyelinap tenggorokan kami. Lika-liku penuh drama di dalamnya. Sesekali terpeleset di sebuah tikungan memutar. Perjalanan kami semakin menantang. Dingin semakin memeluk erat tubuh ini. Sugesti untuk tidak Hypotermia selalu kita gaungkan. Brrrrrrrrr.....

Tepat pukul 9 kita sampai rumah orangtua Edi Santoso. Dan ternyata rumah teman kami ini adalah jalan menuju Gunung Pesagi. Gunung tertinggi di Provinsi Lampung ini. Kami berniat wudhu untuk menjamak shalat kami. Namun air yang membasuh seperti air dalam kulkas. Dingin bila menyentuhnya. Tapi tidak bagi tuan rumah. Dia malah menganjurkan kami untuk mandi. Saya hanya bilang, gila dinginnya. Oke, Senin besok  nunggu hujan dahulu sebelum pulang. wkwkwk

Setelah semuanya selesai. Maka selimut tebal menjadi teman kami semalaman. Keesokan harinya kami berkunjung ke Labuhan Jukung Krui, Pesisir Barat. Ombaknya begitu besar dan pemandangannya begitu sejuk. Kami pun butuh waktu sekitar dua hingga tiga jam dari Liwa. Lelah semalaman terbayarkan dengan keindahan alam ciptaan Tuhan.
Sejenak merangkai buih-buih cinta dalam mimpi


Namun sebelum itu kami berkunjung ke kebun sayuran. Ya. Dulunya adalah perkebunan kopi. Kini menjadi kebun sayuran di setiap sisi dan kaki bukit.
Kebun Wortel yang sedang berbunga
Kebun Buncis

Bawang Merah dan Piye Al-Bidengah


Semoga Liwa ini tetap subur dan makmur. Tetaplah berkabut di pagi hari dan dingin di setiap waktu. Tetaplah hijau bukit-bukit Lampung. Semoga barakahmu menambah umur untuk bumi dari terjangan global warming.
Kabut hingga Pukul 9


Bersambung...
Share:

Monday, May 8, 2017

Puisi-Berjudul Lukisan

LUKISAN
Buah Tinta: IF
Gubahan: Musafir

Detik demi detik tercecer
Menit seperti debu
Berhari-hari ditelan waktu
Perlahan menggumpal semu
Mengintip di balik gelayut awan jemu

Kelam bukan berarti terbuka pintu-pintu hujan
Dan pekik sambar
Tak tentu tanda kemarau
Keraguan bak kelopak mata
Dekat, namun kasat mata
Sesekali alroji tersenyum ramu
Ketika, rindu membelai masa yang telah berlalu

Dimana jari-jemari menoreh goresan tinta
Garis senyum, sekalipun hujan menerpa
Melukiskan mimpi pada kanvas langit
Berarak awan di sekelilingnya

Seandainya pagi berkabut
Setidaknya torehanku menjadi doa
Siaga mencair kapan saja..
Danau Labuhan Ratu, Way Jepara, Lampung Timur
Share:

Thursday, November 10, 2016

Puisi, "Pahlawan Tanpa Muka"



Selamat Hari Pahlawan, 10 November 2016. Melalui perantara dirimu negeri ini terbebas dari penjajahan. Ya. Penjajahan atas diri bangsa yang ingin merdeka dan bebas. Terima kasih mungkin selalu kuucap pada setiap aku hirup napas ini. Kau tahu bahwa kami (generasi penerus perjuanganmu) akan selalu berjuang untuk Nusantara ini. Kau tahu bahwa penjajahan itu belum berakhir saat Proklamasi? Dan sampai kini penjajah itu tetap ada di Bumi Pertiwi ini. Mereka bisa menjadi siapa saja. Termasuk menjadi diri kami sendiri. Bukan fisik yang dijajah. Ya. Pemikiran adalah salah satu yang mereka jajah. Namun sekuat tenaga kami akan melawannya. Seperti saat kau Para Pahlawan melawan dengan tatap muka. Semangatmu dan Patriotisme mu menjadi acuan kami melawan penjajah tanpa muka itu. Dan kami pun akan berjuang di balik muka. Mungkin hanya bisa terdengar oleh telinga. Atau setidaknya suara terlihat oleh sepasang bola mata. 

 
Pahlawan Tanpa Muka

Dengan bangga kusebut engkau Pahlawan
Sepasang otak ini membisu
Perjuanganmu seperti berada di hadapanku
Menyeruak hatiku
Saat itu...
Nyawa ibarat sesuatu yang murah
Laksana buih melawan ombak
Diam saja, mati
Melawan pun pasti mati
Darah menganak sungai di seluruh negeri ini
Bumi pertiwi merintih berabad-abad
Atas nama merah putih kau berkobar
Kau lebih cinta negeri ini dibanding dirimu sendiri
Bagimu, anak cucu bahagia di masa depan adalah impian terbesarmu
Walau kematian tinggal menunggu giliran

Pahlawan Nusantara
Jika dahulu perjuanganmu demi kemerdekaan
Menghapus penjajahan
Bermuka dengan lawan
Maka, kini aku berjuang tanpa muka
Dengan otak sebagai senjata utama
Karena musuh ada di mana-mana
Jauh di seberang samudera
Atau malah di pelupuk mata, namun buta
Mereka menjajah segala kehidupan
Termasuk hati dan pikiran
Penjajah itu bisa siapa saja sadar maupun tanpa sadar
Mungkin penjajah itu diri kita sendiri?
Mungkinkah pahlawan dan penjajah berada pada tubuh yang sama?
Dengan menyebut nama Tuhan Yang Maha Esa
Aku akan perangi
Sekalipun mereka bercokol di tubuh ini
Share:

Sunday, October 30, 2016

Inisial “E-Paparazi” dan “L-Queen of Selfie”





Inisial “E-Paparazi” dan “L-Queen of Selfie”
 


Tahukah kalian bahwa kehidupan ini penuh warna. Seringkali kita jumpai beragam apapun di dunia ini. Hingga beragam pula sifat manusia. Namun sudahkah kalian tahu bahwa kita bisa mendeteksi sifat seseorang? Dengan cara apa dan bagaimana? Saya akan “kupas” di sini. Namun sayangnya saya tidak membawa pisau. Untuk itu, sebagai gantinya saya akan membicarakan ini di ruang terbuka. Karena di ruang terbuka lah sepoi-sepoi angin bisa menerjang sumilirnya. Jadi tak perlu susah-susah mencari kipas angin.
Pertama, lihatlah bagaimana seseorang itu melihat sesuatu. Ketika dia merespon senyum dan mengangkat sedikit alisnya ke atas, maka bisa dipastikan bahwa dia adalah pemilik sifat seseorang yang suka dengan apa yang tidak disukai orang lain. Semisal mencuri foto tanpa izin. Atau sering kita sebut sebagai paparazi. Untuk yang ini saya punya Inisial “E”. Walaupun dalam berjalannya waktu banyak dari teman-teman kita yang ikut andil menjadi bagian dari paparazi itu. Sehingga tak jarang grup BBM membludak oleh beranda foto-foto kocak. Ya. Biasa disebut perang gambar.
Nah, cara menghadapi sifat teman kita yang seperti ini sangat mudah. Yaitu cukup dengan percaya diri. Apapun yang difoto oleh paparazi tetaplah optimis bahwa itu foto terbaik kita. Karena si paparazi ini pandai dalam segala sudut untuk memfoto kita. Dia juga pandai menyembunyikan kameranya. Ingat! Kuncinya adalah percaya diri. Jadi, sebagai korban dari paparazi janganlah risau. Semakin banyak foto-foto aneh tentang kita hasil jepret paparazi, tetaplah tersenyum. Karena belum dalam satu dekade ke depan ada manusia se usil paparazi ini.
Kedua, lihatlah bagaimana seseorang yang menjadi objek anda tersenyum. Ketika senyuman itu terkena efek slow motion. Maka bisa jadi itu adalah senyuman eksis. Nah, tipe ini adalah kebalikan dari yang pertama tadi. Jika yang pertama sering mengambil orang tanpa izin. Maka yang kedua ini suka mengambil gambarnya sendiri. Atau yang sering di sebut selfi. Ke tempat yang lumayan indah dikit selfi. Beli bakso selfi. Makan tahu bulat selfi. Pantai selfi. Bagi mereka hidup tanpa selfi ibarat langit tanpa bumi. Indah namun tidak ada tempat untuk melihatnya. Untuk tipe yang kedua ini sangat menjamur di kalangan wanita. Walaupun beberapa orang pria pun melakukannya. Salah satu yang sering kusebut Ratu Selfi adalah seseorang berinisial “L”. Karena acapkali dia selfi pagi atau sore hari. Upload fotonya bisa saja hingga tengah malam. Mungkin saja dia tak bisa tidur bila belum upload.
Untuk sementara ini dulu penelitian yang ngawur ini. Dari kedua tipe ini saya simpulkan bahwa apa yang mereka lakukan adalah untuk dikenang. Baik untuk dirinya sendiri maupun saat reunian satu angkatan. Tapi, ingatlah bahwa jangan sampai berlebihan. Artinya menjadi paparazi ataupun Ratu Selfi jangan sampai kelewatan. Karena ketika kelewatan, bisa menyebabkan kecape’an. Kenapa? Bayangkan saja anda berniat berlari dari Kota A ke Kota B, namun anda kelewatan hingga Kota G. Nah, yang seperti itu kan capek pulangnya. Belum lagi kalau lagi sepi angkot. Ingat! Jangan sampai kelewatan, karena kelewatan capek baliknya. He he he
Share:

Thursday, October 27, 2016

Penemuan Fakta Berinisial "A"



Maybe Fact, Maybe Hoax

Penemuan Fakta
Aku adalah seorang yang sering disebut sebagai musafir. Karena aku adalah seseorang yang tidak bisa berdiam diri. Sekalipun di dalam ruangan atau kelas, aku selalu berjalan. Tipe seperti ku adalah orang pendiam yang suka berjalan. Bayangkan saja, ketika tidur pun aku selalu berjalan dalam alam bawah sadarku. Melalui mimpi yang kurajut. Salah satu kebiasaanku adalah sarapan. Aku sama sekali tidak betah bila tidak sarapan. Lambungku pasti protes terhadapku. Bahkan dalam kamus hidupku sarapan adalah nomer satu. Namun berbeda bila datang bulan puasa atau aku sengaja berniat puasa. Tentunya aku ganti sarapan itu dengan sahur.
Aku bisa saja bertahan hidup sampai dua puluh tahun atau lebih. Bahkan hingga satu abad tanpa makan dan minum. Dengan satu catatan bahwa aku harus sarapan. Nah, setiap hari aku sarapan dua atau tiga kali. Bahkan seringkali sarapan hingga empat kali dalam sehari nya. Jadi, tidak makan dan minum satu abad pun bisa. Asalkan sarapan setiap hari. Setiap hari sarapan dua, tiga atau bahkan empat kali. Xixixixixi
Saat ini aku sedang meneliti tentang rekan satu kelas saya. Saya tidak akan menyebutkan nama dalam hal ini. Yang jelas dia adalah seorang pria. Ciri-cirinya adalah berambut hitam lurus. Dengan gaya kebelakang dalam menyisir rambutnya. Seringkali ia memakai pakaian yang sempit. Sehingga terlihat seksi, walaupun sejatinya lelaki. Tangki motor Arifudin ini berwarna merah. Waduh... aku keceplosan menyebutkan nama. Tipe X ku sedang tidak ada. Maka cerita saya lanjutkan. Dalam cerita ini ternyata saya lupa untuk menghapus nama itu.
Ada satu hal yang sangat saya suka dari teman saya ini. Dia adalah tipe seseorang yang tidak malu untuk bertanya. Dalam segi dan ruang bagaimana pun dia tidak sungkan untuk bertanya. Hanya saja dalam hal formal, seperti mengungkapkan pendapat atau pertanyaan sering gugup. contohnya dalam sebuah diskusi yang acapkali dia mempunyai sejuta tanya di kepalanya. Namun, bibir dan lidahnya kelu untuk membahasakannya. Hal yang sering dilakukannya adalah bertanya kepada teman yang berada di sampingnya. Dan sahabat baiknya adalah Wahyu Edi Saputra. Waduh ! aku benar-benar lupa menyatut nama lagi. Tapi tidak ada apa-apa lah. Tidak ada tipe-x untuk menghapusnya.
Berhubung sudah terlanjur sebut nama. Maka dilanjutkan saja. Sesuatu yang telah terjadi jadi pelajaran jangan diulangi lagi. Jadi, dilanjutkan dulu hingga selesai, lalu jangan diulangi. He he he
Oke... Wahyu dan Arif adalah dua sahabat baik. Dalam kebersamaan mereka selalu ada canda awa di sana. Tapi di sini saya sedang tidak menceritakan keduanya. Karena bagiku terlalu dini untuk menceritakan kisah mereka berdua. Saya lebih tertarik mengamati wajah Arif. Bukan karena ada rasa dengannya. Melainkan ada desain yang sama dalam kelas itu juga. Dan desain yang mirip itu adalah seorang perempuan. Akan saya ungkap fakta-fakta dari penelitian kecil yang dilakukan beberapa waktu lalu, diantaranya:
1.      Inisial huruf depan dalam namanya sama-sama “A”.
2.      Desain wajah yang sama-sama berbentuk oval.
3.      Alis mata mereka bergaris melengkung sedikit dengan ketebalan yang hampir sama.
4.      Cara mereka berkedip sama. Bisa dilihat dari tempo dalam ukuran detik ketika mereka berkedip.
5.      Bentuk hidup yang sedikit lebih terlihat mancung. Walaupun sebenarnya tidak begitu.
6.      Timbre suara yang 99,98% sama.
7.      Bertipikal sama. Yaitu orang yang pendiam. Namun adakalanya heboh dengan dirinya sendiri.
8.      Pendiam yang banyak tanya. Namun sulit untuk membahasakan pertanyaannya.
9.      Cara melirik yang sama. Dari sudut yang sulit dijangkau oleh kamera sekalipun.
Begitulah mereka yang memiliki kemiripan. Mungkinkah mereka saudara kembar? Yang bisa jadi terpisahkan oleh sudut waktu dan lingkup tempat. Atau orang-orang sering bilang bahwa jodoh itu seperti ada kemiripan. Tapi itu bukan saya yang mengatakan, melainkan orang-orang.
Namun, saya akan menyelesaikan penelitian kecil ini yang tidak didasari Berita Acara Penelitian atau bukti-bukti dari sumber yang valid. Namun saya berkesimpulan bahwa mereka berdua adalah rekan saya di kelas. Satu hal yang saya pelajari dari mereka. Bahwa mereka murah senyum. Seringkali saya lihat mereka obral senyuman mereka. Diamnya mereka penuh tanda tanya, sehingga membuat saya melakukan penelitian konyol ini. Ini hanya sebuah fenomena biasa. Yang siapa saja bisa mirip sekalipun bukan saudara kandung atau saudara kembar.
Musafir hanya bercanda. Karena Musafir selalu berjalan sekalipun di kelas. Maka dari itu berjalannya Musafir adalah penelitian. Jadi, teman-teman harus wasapada ketika Musafir berjalan. Adakalanya dia penelitian dan terkadang dia sedang capek karena duduk terlalu lama.
Salam Gempita!
Share:
GEMPITA, Wahid Najmun Al-Farisi (Musafir Ilmu dan Cinta). Powered by Blogger.

Text Widget

"Jadilah sebaik-baik manusia, dengan selalu berbuat baik tanpa takut tak dihargai, tanpa takut tak mendapat balasan. Karena berbuat baikmu hanya ikhlas kepada Tuhan dan atas dasar kemanusiaan. Bukan karena satu pemikiran, satu agama, satu pandangan. Namun hanya satu tujuan untuk berbuat kebaikan kepada sesama."

Reriak Jiwa

Wikipedia

Search results

Sample Text

Jadikan setiap yang anda lihat, dengar dan rasakan menjadi pelajran berharga dalam hidup. Guru terbaik sepanjang zaman adalah Pengalaman. Tak peduli apakah itu pengalaman gagal atau kesuksesan.

"Tulisan adalah nyawa kedua setelah kematian"

Cloud Label

Video (4)

Formulir Kontak

Name

Email *

Message *

Followers

Total Pageviews

Powered By Blogger

Label


Religion

Religion

Blog List

Translate

Labels

Blog Archive

Blogger templates