Gerakan Menuju Pos Cita-cita "Cerpen, Puisi, Traveller, Motivasi dan Gaya Hidup menjadi tautan asa dalam sebuah Selasar Nektar Kata"

Semesta

Wednesday, September 23, 2015

Arus Cinta Pada Kelestarian Alam

Terlihat sesosok lelaki paruh baya duduk  pada sebuah batu besar. Termenung di bawah rerimbun pepohonan pada bantaran sungai dekat rumahnya. Tidak seperti biasanya lelaki ini termenung tanpa kata. Biasanya ia selalu riang gembira dengan dendangan lagu yang dinyanyikannya. Sesekali ia melihat ke bawah sungai. Penglihatannya fokus pada satu benda hingga membuatnya sedikit menggariskan senyumnya. Dengan lirih ia mulai bernyanyi seperti hari-hari biasanya. Walaupun kali ini lagu yang dinyanyikannya terkesan bergenre sedih. Namun irama lagunya terasa seru hingga tak terlihat bahwa lagu itu mewakili kesedihannya. Ia mulai mengambil kerikil di samping tempat yang ia duduki. Lalu seperti biasa ia melemparkannya ke seberang sungai. Begitu ia berulang kali tanpa henti bernyanyi.
Pada keesokan harinya ia bersiap menuju rutinitasnya. Duduk di atas batu pada bantaran kali dekat rumahnya. Hanya saja sebelum ia duduk dan bernyanyi-nyanyi biasanya ia membaca beberapa ayat dari Kitab Suci Allah Al Qur’anul Karim. Surat yang paling sering dibaca ba’da shubuh olehnya adalah Yaa Siin, Al Waqi’ah, Ar Rahmaan dan Al Mulk. Setelah itu ia sesekali membaca tafsir dari surat-surat yang lain dalam Kitab Suci itu.
Kebiasaan itu rutin ia kerjakan semenjak ia mempunyai anak pertamanya. Berarti dalam kurun waktu dua puluh tahunan yang lalu hingga kini ia Istiqamah dengan kegiatan rutinitasnya itu. Hanya saja jika dahulu ia tidak bersantai-santai seperti pensiunan sekarang. Karena ia dulu adalah seorang Pe En Es pada sebuah instansi Perguruan Tinggi di kota termasyur di provinsi Lampung.
Hingga pada suatu saat ia terkejut bukan kepalang ketika melihat batu besar di bawah rindang pohon itu hilang. Batu yang selama ini setia menemani dalam keadaan suka maupun duka hidupnya. Ia hampiri tempat di mana batu itu berada. Namun hanya sia-sia, batu itu telah tiada entah kemana rimbanya. Ketika ia mengambil batu kecil dengan hasrat ingin melemparnya ke seberang sungai. Ia makin terkejut dengan kering kerontangnya sungai. Tiada aliran deras seperti biasanya. Yang ada hanya bebatuan yang kering membisu tanpa belaian buih arus sungai. Kemanakah air yang dulu selalu setia mengaliri tanpa henti. Kini terlihat sirna tanpa jejak, tanpa ada yang mengetahui keberadaannya.
Hari-hari rutin biasanya sangat jauh berbeda dengan hari ini. Di mana ia hanya beralaskan sendal jepit berukirkan Musafir dengan melantunkan ayat seperti biasanya. Seusai tilawah ia mengambil batu kecil di sampingnya. Namun haru tangis kembali mengalir deras. Apalah daya derasnya aliran air mata tak sanggup membanjiri sungai yang dehidrasi ini. Pagi itu amat cerah, tapi kesedihan menyelimutinya bagai kabut hitam tebal yang menggumpal.
Ia semakin erat dan kuat menggenggam batu kecil yang ada pada telapak tangannya. Lalu dilemparkanlah batu itu ke belakangnya. Terdengar suara bahwa batu itu mengenai sesuatu hingga berbunyi. Ia membalikkan badannya, ternyata sebuah kran penyiram bunga. Terlihat mulai ada gambar bola lampu yang menyala di atas kepalanya. Ia bergegas mengambil selang panjang. Ia mencoba mengaliri air sungai dengan sumur bor yang di milikinya. Hanya saja sangat tidak berefek apa-apa. Ia pun merayu para warga untuk ikut serta dalam rencananya. Ada yang setuju dengan senyuman seperti menganggap pikun. Ada juga yang terbuka mengatakannya langsung dengan bahasa kasar. Namun sama sekali tak mematahkan semangatnya.
Dengan usaha kerasnya lelaki itu bisa kembali menemukan batu biasanya ia duduk. Ia setting seperti sedia kala dan beraktivitas seperti biasa. Aliran sungai palsu itu walau terlihat deras dengan arusnya namun itu sebuah kebohongan. Lelaki itu tak merasakan nikmat seperti biasanya ia melempar batu ke sungai. Pasrah bukan tipe seseorang seperti lelaki ini. Namun masalah ini membuatnya pusing tak karuan.
Segala beban berat hati yang menggelayutinya memaksakan diri. Ia mencoba menelusuri sungai ke atas dengan dalih memeriksa pusat sumber airnya. Di tengah perjalanan ia sedikit curiga dengan suara keras gemuruh seperti arus air. Tapi di manakah itu? Ia menelusuri dan mencari sumber suara itu. Terkejut bukan main lelaki itu ketika melihat pipa besar yang di aliri dari sumber terbesar. Tertulis nama sebuah perusahaan besar yang sangat ia kenali siapa saja petinggi-petingginya.
Dengan semangat berkobar ia hancurkan pipa-pipa itu dengan palu besar bersama warga sekitar. Hingga teraliri seperti biasa sungai-sungai yang dalam penantiannya. Para petinggi perusahaan semua masuk dalam bui karena ulahnya. Semua warga termasuk lelaki itu mulai merasakan kebahagiaan yang sepertinya semakin bertambah sayang kepada sungai itu. Hingga setiap warga di sekitarnya pun sangat kental bahkan mengharamkan segala sesutau yang merusak sungai. Semua warga ikut andil melestarikan sungai itu. Menjaganya, menyayanginya dan mebuatnya semakin indah. Hingga siapa saja yang melewati sungai itu merasakan indahnya kebersamaan dalam pelestarian makna kekeluargaan yang luarbiasa.

Mari Jaga Lingkungan Sekitar Kita!!!
Dengan Andil Menjaga dan Merawatnya Menjadi Indah...

Semoga Kehidupan Kita Semakin Allah Berkahi....


Share:

0 komentar:

Post a Comment

GEMPITA, Wahid Najmun Al-Farisi (Musafir Ilmu dan Cinta). Powered by Blogger.

Text Widget

"Jadilah sebaik-baik manusia, dengan selalu berbuat baik tanpa takut tak dihargai, tanpa takut tak mendapat balasan. Karena berbuat baikmu hanya ikhlas kepada Tuhan dan atas dasar kemanusiaan. Bukan karena satu pemikiran, satu agama, satu pandangan. Namun hanya satu tujuan untuk berbuat kebaikan kepada sesama."

Reriak Jiwa

Wikipedia

Search results

Sample Text

Jadikan setiap yang anda lihat, dengar dan rasakan menjadi pelajran berharga dalam hidup. Guru terbaik sepanjang zaman adalah Pengalaman. Tak peduli apakah itu pengalaman gagal atau kesuksesan.

"Tulisan adalah nyawa kedua setelah kematian"

Cloud Label

Video (4)

Formulir Kontak

Name

Email *

Message *

Followers

Total Pageviews

Powered By Blogger

Label


Religion

Religion

Blog List

Translate

Labels

Blog Archive

Blogger templates