Terlihat sesosok lelaki paruh baya
duduk pada sebuah batu besar. Termenung
di bawah rerimbun pepohonan pada bantaran sungai dekat rumahnya. Tidak seperti
biasanya lelaki ini termenung tanpa kata. Biasanya ia selalu riang gembira
dengan dendangan lagu yang dinyanyikannya. Sesekali ia melihat ke bawah sungai.
Penglihatannya fokus pada satu benda hingga membuatnya sedikit menggariskan
senyumnya. Dengan lirih ia mulai bernyanyi seperti hari-hari biasanya. Walaupun
kali ini lagu yang dinyanyikannya terkesan bergenre sedih. Namun irama lagunya
terasa seru hingga tak terlihat bahwa lagu itu mewakili kesedihannya. Ia mulai
mengambil kerikil di samping tempat yang ia duduki. Lalu seperti biasa ia
melemparkannya ke seberang sungai. Begitu ia berulang kali tanpa henti bernyanyi.
Pada keesokan harinya ia bersiap
menuju rutinitasnya. Duduk di atas batu pada bantaran kali dekat rumahnya. Hanya
saja sebelum ia duduk dan bernyanyi-nyanyi biasanya ia membaca beberapa ayat
dari Kitab Suci Allah Al Qur’anul Karim. Surat yang paling sering dibaca ba’da
shubuh olehnya adalah Yaa Siin, Al Waqi’ah, Ar Rahmaan dan Al Mulk. Setelah itu
ia sesekali membaca tafsir dari surat-surat yang lain dalam Kitab Suci itu.
Kebiasaan itu rutin ia kerjakan
semenjak ia mempunyai anak pertamanya. Berarti dalam kurun waktu dua puluh
tahunan yang lalu hingga kini ia Istiqamah dengan kegiatan rutinitasnya itu. Hanya
saja jika dahulu ia tidak bersantai-santai seperti pensiunan sekarang. Karena ia
dulu adalah seorang Pe En Es pada
sebuah instansi Perguruan Tinggi di kota termasyur di provinsi Lampung.
Hingga pada suatu saat ia
terkejut bukan kepalang ketika melihat batu besar di bawah rindang pohon itu
hilang. Batu yang selama ini setia menemani dalam keadaan suka maupun duka
hidupnya. Ia hampiri tempat di mana batu itu berada. Namun hanya sia-sia, batu
itu telah tiada entah kemana rimbanya. Ketika ia mengambil batu kecil dengan
hasrat ingin melemparnya ke seberang sungai. Ia makin terkejut dengan kering
kerontangnya sungai. Tiada aliran deras seperti biasanya. Yang ada hanya
bebatuan yang kering membisu tanpa belaian buih arus sungai. Kemanakah air yang
dulu selalu setia mengaliri tanpa henti. Kini terlihat sirna tanpa jejak, tanpa
ada yang mengetahui keberadaannya.
Hari-hari rutin biasanya sangat
jauh berbeda dengan hari ini. Di mana ia hanya beralaskan sendal jepit
berukirkan Musafir dengan melantunkan
ayat seperti biasanya. Seusai tilawah ia mengambil batu kecil di sampingnya. Namun
haru tangis kembali mengalir deras. Apalah daya derasnya aliran air mata tak
sanggup membanjiri sungai yang dehidrasi ini. Pagi itu amat cerah, tapi
kesedihan menyelimutinya bagai kabut hitam tebal yang menggumpal.
Ia semakin erat dan kuat
menggenggam batu kecil yang ada pada telapak tangannya. Lalu dilemparkanlah
batu itu ke belakangnya. Terdengar suara bahwa batu itu mengenai sesuatu hingga
berbunyi. Ia membalikkan badannya, ternyata sebuah kran penyiram bunga. Terlihat
mulai ada gambar bola lampu yang menyala di atas kepalanya. Ia bergegas
mengambil selang panjang. Ia mencoba mengaliri air sungai dengan sumur bor yang
di milikinya. Hanya saja sangat tidak berefek apa-apa. Ia pun merayu para warga
untuk ikut serta dalam rencananya. Ada yang setuju dengan senyuman seperti
menganggap pikun. Ada juga yang terbuka mengatakannya langsung dengan bahasa
kasar. Namun sama sekali tak mematahkan semangatnya.
Dengan usaha kerasnya lelaki itu
bisa kembali menemukan batu biasanya ia duduk. Ia setting seperti sedia kala
dan beraktivitas seperti biasa. Aliran sungai palsu itu walau terlihat deras
dengan arusnya namun itu sebuah kebohongan. Lelaki itu tak merasakan nikmat
seperti biasanya ia melempar batu ke sungai. Pasrah bukan tipe seseorang seperti
lelaki ini. Namun masalah ini membuatnya pusing tak karuan.
Segala beban berat hati yang
menggelayutinya memaksakan diri. Ia mencoba menelusuri sungai ke atas dengan
dalih memeriksa pusat sumber airnya. Di tengah perjalanan ia sedikit curiga
dengan suara keras gemuruh seperti arus air. Tapi di manakah itu? Ia menelusuri
dan mencari sumber suara itu. Terkejut bukan main lelaki itu ketika melihat
pipa besar yang di aliri dari sumber terbesar. Tertulis nama sebuah perusahaan
besar yang sangat ia kenali siapa saja petinggi-petingginya.
Dengan semangat berkobar ia
hancurkan pipa-pipa itu dengan palu besar bersama warga sekitar. Hingga teraliri
seperti biasa sungai-sungai yang dalam penantiannya. Para petinggi perusahaan
semua masuk dalam bui karena ulahnya. Semua warga termasuk lelaki itu mulai
merasakan kebahagiaan yang sepertinya semakin bertambah sayang kepada sungai
itu. Hingga setiap warga di sekitarnya pun sangat kental bahkan mengharamkan
segala sesutau yang merusak sungai. Semua warga ikut andil melestarikan sungai
itu. Menjaganya, menyayanginya dan mebuatnya semakin indah. Hingga siapa saja
yang melewati sungai itu merasakan indahnya kebersamaan dalam pelestarian makna
kekeluargaan yang luarbiasa.
Mari Jaga Lingkungan Sekitar Kita!!!
Dengan Andil Menjaga dan Merawatnya Menjadi Indah...
Semoga Kehidupan Kita Semakin Allah Berkahi....







0 komentar:
Post a Comment