Ketika Miqdad Datang
Episode 3 (Pangeran Senyap)
“Bukankah dia
anakmu juga pak? Kenapa aku tak pernah melihatnya berbicara?” kata-kata itu
perlahan merambat hingga tertuju kepada Pak Lurah. Sedangkan bagi pria yang
sedari tadi diam hanya seperti ungkapan penasaran orang-orang yang baru
mengenalnya. Sorot matanya isyarat sedikit perasaan tak suka.
“Oh.. ini anak
sulung saya pak” sambil memegangi pundak anak bujangnya. “Bapak tak akan pernah
melihatnya bicara. Karena dia memang benar-benar tak bisa bicara setelah
kejadian itu.” Sambung Pak Lurah.
“Maaf, anak
bapak bisu?”
“Iya” semburat
sedih menggelayut bening di kelopak mata Pak Lurah.
“Siapa nama
anak bapak ini? dan kenapa dengan perkataan bapak setelah kejadian itu?” tanya
paman lagi.
“Namanya Rio.
Dia harus kehilangan pita suaranya demi menolongku. Dia tercekik oleh musuh
besar dalam hidupku. Ceritanya panjang pak.” sepasang mata Pak Lurah bening
berkaca-kaca.
“Apakah sudah
tak ada harapan untuk sembuh? Dengan operasinya misalnya?” tanyaku mengarah
kepada Mas Rio.
“Biarlah itu
menjadi sebuah kesaksian. Sebuah alasan untuk aku kobarkan dendam pada musuhku
itu! Aku akan balas dendam” ketus Pak Lurah dengan air muka memerah.
Sementara Falah
hanya terdiam. Sering kulihat ia bergerak ragu. Sehingga membuatnya semakin
terlihat salah tingkah. Sedang Mas Rio terkungkam seribu bahasa. Aku sama
sekali tak menemukan binar sahabat di wajahnya. Seolah dia membenci dunia ini.
termasuk diriku. Mungkin karena kobaran dendam yang membara di hatinya. Aku tak
bisa menyalahkan mereka yang punya musuh. Karena punya satu musuh saja hidup
tak tenang.
Aku jadi
teringat bahwa tak dapat dipungkiri bahwa ayahku juga dahulu mempunyai musuh. Namun
kini telah ayah anggap seolah tiada lagi. Permusuhan ayah juga melibatkanku
seperti halnya Mas Rio. Bahkan rusuk kiriku hingga patah atas perkelahian itu. Kejadian
itu saat aku masih duduk di bangku abu-abu putih. Permasalahannya saat itu
adalah berawal dari sengketa tanah. Namun karena perselisihan, maka saat malam
itu terjadilah perkelahian yang tak dapat dihindarkan. Mereka satu pasukan
datang mengepung rumahku. Jika hanya dengan senjata tajam khususnya aku akan
siap melawannya. Namun senjata api telah menembus jantung ibuku. Itulah awal
mula permusuhan besar itu. Namun sebenarnya ayah menyuruhku untuk mengakhiri
permusuhan itu. Karena akan banyak korban yang berjatuhan lagi. Karena menang pun
hanya akan menjadi arang. Sedangkan kalah akan menjadi abu. Semuanya mengalami
kerugian besar. Pada saat itu aku bersikukuh untuk tetap mengibarkan bendera
perang. Namun lambat laun aku mulai sadar bahwa harus mengakhiri permusuhan
itu.
Akhirnya aku
menemukan hidup berwarna di pesantren. Hingga saat ini ketenangan yang aku
dapatkan. Sudah tak berpikir dendam lagi siapa yang telah menembak ibuku. Walaupun
telah jelas bahwa anak buah musuh ayahku lah yang menembaknya. Namun hingga
kini mereka tak jua minta maaf. Bahkan pengakuan mereka saat itu tak membawa
anak buah bersenjata api. Ia mengaku hanya tangan kosong ke sana. Namun kenyataan
berbicara lain. Ibuku telah tiada.
“Rio ini anak
yang cerdas. Walaupun ia sekarang bisu. Namun tetap memberikan pengaruh besar
dalam hidupku. Strateginya, pemikirannya dna cara pandangnya membuuatku bangga.
Dia bagaikan pahlawan senyapku. Tak banyak bicara tapi berefek luar biasa. Itulah
dia.” Suara Pak Lurah membangunkan lamunanku. Sedangkan Mas Rio menyunggingkan
selaksa senyum kecil bangga.
“Kalau saya
orangnya suka damai pak? Permusuhan itu merugikan semua pihak pak. Kalau saya
boleh menyarankan, maka akhirilah permusuhan itu. Sebelum datang masalah baru
yang lebih rumit dari sebelumnya” dengan nada bersahabat dari paman. suasana
tegang sedikit meredam.
“Iya pak, terima
kasih atas sarannya. Saya juga ingin mengakhiri permusuhan itu.” Jawab Pak
Lurah tegas.
Tak terasa
hujan mulai mereda. Hamparan padi kini berlinang air hujan. Sore itu kami
pulang ke rumah masing-masing. Keriyip mentari sedikit menghangatkan tubuh di
perjalanan pulang. Sejurus kemudian terlihat warna-warni indah di cakrawala. Ya
itu pembiasan cahaya. Pelangi itu muncul cerah bersama sejuk semringah harapan
perdamaian. Rumpun padi melambai ceria
menyambut senja. Sedangkan burung-burung berbaris pulang ke rumahnya. Panorama
itu sedikit menyibak dendam yang bercokol. Apalagi diriku. Yang jarang sekali
melihat gugusan pelangi membentuk setengah lingkaran besar dari ujung utara
hingga ujung selatan.
*****







0 komentar:
Post a Comment