Gerakan Menuju Pos Cita-cita "Cerpen, Puisi, Traveller, Motivasi dan Gaya Hidup menjadi tautan asa dalam sebuah Selasar Nektar Kata"

Semesta

Saturday, May 7, 2016

Serial: Ketika Miqdad Datang (Episode 3 "Pangeran Senyap")


Ketika Miqdad Datang
Episode 3 (Pangeran Senyap)

“Bukankah dia anakmu juga pak? Kenapa aku tak pernah melihatnya berbicara?” kata-kata itu perlahan merambat hingga tertuju kepada Pak Lurah. Sedangkan bagi pria yang sedari tadi diam hanya seperti ungkapan penasaran orang-orang yang baru mengenalnya. Sorot matanya isyarat sedikit perasaan tak suka.
“Oh.. ini anak sulung saya pak” sambil memegangi pundak anak bujangnya. “Bapak tak akan pernah melihatnya bicara. Karena dia memang benar-benar tak bisa bicara setelah kejadian itu.” Sambung Pak Lurah.
“Maaf, anak bapak bisu?”
“Iya” semburat sedih menggelayut bening di kelopak mata Pak Lurah.
“Siapa nama anak bapak ini? dan kenapa dengan perkataan bapak setelah kejadian itu?” tanya paman lagi.
“Namanya Rio. Dia harus kehilangan pita suaranya demi menolongku. Dia tercekik oleh musuh besar dalam hidupku. Ceritanya panjang pak.” sepasang mata Pak Lurah bening berkaca-kaca.
“Apakah sudah tak ada harapan untuk sembuh? Dengan operasinya misalnya?” tanyaku mengarah kepada Mas Rio.
“Biarlah itu menjadi sebuah kesaksian. Sebuah alasan untuk aku kobarkan dendam pada musuhku itu! Aku akan balas dendam” ketus Pak Lurah dengan air muka memerah.
Sementara Falah hanya terdiam. Sering kulihat ia bergerak ragu. Sehingga membuatnya semakin terlihat salah tingkah. Sedang Mas Rio terkungkam seribu bahasa. Aku sama sekali tak menemukan binar sahabat di wajahnya. Seolah dia membenci dunia ini. termasuk diriku. Mungkin karena kobaran dendam yang membara di hatinya. Aku tak bisa menyalahkan mereka yang punya musuh. Karena punya satu musuh saja hidup tak tenang.
Aku jadi teringat bahwa tak dapat dipungkiri bahwa ayahku juga dahulu mempunyai musuh. Namun kini telah ayah anggap seolah tiada lagi. Permusuhan ayah juga melibatkanku seperti halnya Mas Rio. Bahkan rusuk kiriku hingga patah atas perkelahian itu. Kejadian itu saat aku masih duduk di bangku abu-abu putih. Permasalahannya saat itu adalah berawal dari sengketa tanah. Namun karena perselisihan, maka saat malam itu terjadilah perkelahian yang tak dapat dihindarkan. Mereka satu pasukan datang mengepung rumahku. Jika hanya dengan senjata tajam khususnya aku akan siap melawannya. Namun senjata api telah menembus jantung ibuku. Itulah awal mula permusuhan besar itu. Namun sebenarnya ayah menyuruhku untuk mengakhiri permusuhan itu. Karena akan banyak korban yang berjatuhan lagi. Karena menang pun hanya akan menjadi arang. Sedangkan kalah akan menjadi abu. Semuanya mengalami kerugian besar. Pada saat itu aku bersikukuh untuk tetap mengibarkan bendera perang. Namun lambat laun aku mulai sadar bahwa harus mengakhiri permusuhan itu.
Akhirnya aku menemukan hidup berwarna di pesantren. Hingga saat ini ketenangan yang aku dapatkan. Sudah tak berpikir dendam lagi siapa yang telah menembak ibuku. Walaupun telah jelas bahwa anak buah musuh ayahku lah yang menembaknya. Namun hingga kini mereka tak jua minta maaf. Bahkan pengakuan mereka saat itu tak membawa anak buah bersenjata api. Ia mengaku hanya tangan kosong ke sana. Namun kenyataan berbicara lain. Ibuku telah tiada.
“Rio ini anak yang cerdas. Walaupun ia sekarang bisu. Namun tetap memberikan pengaruh besar dalam hidupku. Strateginya, pemikirannya dna cara pandangnya membuuatku bangga. Dia bagaikan pahlawan senyapku. Tak banyak bicara tapi berefek luar biasa. Itulah dia.” Suara Pak Lurah membangunkan lamunanku. Sedangkan Mas Rio menyunggingkan selaksa senyum kecil bangga.
“Kalau saya orangnya suka damai pak? Permusuhan itu merugikan semua pihak pak. Kalau saya boleh menyarankan, maka akhirilah permusuhan itu. Sebelum datang masalah baru yang lebih rumit dari sebelumnya” dengan nada bersahabat dari paman. suasana tegang sedikit meredam.
“Iya pak, terima kasih atas sarannya. Saya juga ingin mengakhiri permusuhan itu.” Jawab Pak Lurah tegas.
Tak terasa hujan mulai mereda. Hamparan padi kini berlinang air hujan. Sore itu kami pulang ke rumah masing-masing. Keriyip mentari sedikit menghangatkan tubuh di perjalanan pulang. Sejurus kemudian terlihat warna-warni indah di cakrawala. Ya itu pembiasan cahaya. Pelangi itu muncul cerah bersama sejuk semringah harapan perdamaian.  Rumpun padi melambai ceria menyambut senja. Sedangkan burung-burung berbaris pulang ke rumahnya. Panorama itu sedikit menyibak dendam yang bercokol. Apalagi diriku. Yang jarang sekali melihat gugusan pelangi membentuk setengah lingkaran besar dari ujung utara hingga ujung selatan.
*****
Share:

0 komentar:

Post a Comment

GEMPITA, Wahid Najmun Al-Farisi (Musafir Ilmu dan Cinta). Powered by Blogger.

Text Widget

"Jadilah sebaik-baik manusia, dengan selalu berbuat baik tanpa takut tak dihargai, tanpa takut tak mendapat balasan. Karena berbuat baikmu hanya ikhlas kepada Tuhan dan atas dasar kemanusiaan. Bukan karena satu pemikiran, satu agama, satu pandangan. Namun hanya satu tujuan untuk berbuat kebaikan kepada sesama."

Reriak Jiwa

Wikipedia

Search results

Sample Text

Jadikan setiap yang anda lihat, dengar dan rasakan menjadi pelajran berharga dalam hidup. Guru terbaik sepanjang zaman adalah Pengalaman. Tak peduli apakah itu pengalaman gagal atau kesuksesan.

"Tulisan adalah nyawa kedua setelah kematian"

Cloud Label

Video (4)

Formulir Kontak

Name

Email *

Message *

Followers

Total Pageviews

Powered By Blogger

Label


Religion

Religion

Blog List

Translate

Labels

Blog Archive

Blogger templates