Ketika Miqdad Datang
Episode 6 (Ketika
Mega Merah Hilang)
Miqdad adalah
seorang pria yang selalu menjaga shalat jama’ah tepat waktu. Setelah shalat
maghrib maka dia akan menunggu hingga shalat isya’ tiba. Karena ia tahu bahwa
jarak antara waktu maghrib dan isya’ sangat dekat. Di waktu yang singkat itu
selalu digunakannya untuk me-muraja’ah
hafalan al-Qur’annya. Kadang ia gunakan untuk mendengar kajian dan berdiskusi
di masjid-masjid yang dikunjunginya.
Miqdad
bersandar pada tiang baris kedua masjid utama desa itu. Yaitu Masjid
al-Muhajirin. Benar saja. Bibirnya sedang berkomat-kamit dengan hafalan
ayat-ayat indah itu. Suaranya lirih namun terdengar fasih.
“Subhanallah, merdu sekali suaramu, nak?”
seseorang menepuk pundak kanan Miqdad.
Lalu ia
menghentikan bacaan itu dan menolehkan pandangannya. Dilihatnya seorang
berwajah senja penuh dengan kerutan di keningnya. Semua rambutnya yang terlihat
adalah berwarna putih. Dengan kopiah hitam beraroma usia senja pula. Bisa jadi
usia kopiah itu lebih tua dibanding usiaku saat ini? Terlukis guratan merah
seperti terbakar pada setiap sisi kopiah itu. Sementara kumis dan jenggotnya
tersulam warna putih mayoritas merata. Yah. Beliau seperti terlihat serba putih
dengan gamis orang yang telah pergi ke tanah suci. Hanya kopiahnya saja yang
hitam.
Bening senyumnya
menggaris tipis, “Assalamualaikum?” suara
parau beliau masih terdengar merenyuh hati.
“Waalaikumsalam” Miqdad pun membalas
dengan senyuman santun.
“Di mana kau
belajar membaca al-Qur’an, Nak? Mahraj
mu bagus. Terlebih tampaknya kau seorang hafidz,
bukan?” Beliau sembari meluruskan kedua kakinya dan bersandar tepat di
sampingku.
“Saya enam
tahun di Ponpes Fathussa’adah, Unit dua Tulang Bawang, Ustadz?” suaranya lebih
pelan dari lawan bicaranya. Begitulah Miqdad ketika berbicara kepada yang lebih
tua darinya. Santun, pelan dan terlihat kelembutan hatinya.
“Ohh.. Pantas
saja kau sefasih itu dalam melantunkan ayat demi ayat yang kau baca. Tapi kenapa
tiba-tiba kau memanggilku ustadz? Bukankah kita baru bertemu kali ini?” kali ini beliau sedikit mengerutkan dahinya.
“He he... dari
tas kecil ini” sambil menunjuk tas kecil berwarna cokelat. Di situ tertulis
dengan bordiran warna hijau. “Ustadz Khoirul Anam, bukan?”
“Kau ternyata
jeli wahai anak muda! He he... lalu nama mu?”
“Nama saya
adalah Muhammad Miqdad Najib, biasa dipanggil Miqdad”
“Kau asli
orang sini, Nak?”
“Ndak, Ustadz.
Saya hanya liburan saja di sini. Di rumah paman. Ustadz sendiri?”
“Saya di sini
musafir. Bersama keluarga bersilaturrahmi ke rumah kerabat yang ada di Desa
Telogo Rejo, Es Pe lima?”
Setelah saling
mengenal, mereka larut dalam diskusi hangat tentang agama. Sebuah majelis
sederhana tak terduga. Karena masjid bukan tempat untuk sesuatu yang sia-sia. Hingga
masuk waktu isya’. Karena Miqdad paling muda dari yang telah hadir di masjid
itu. Maka secara otomatis Miqdad lah yang mengumandangkan adzan. Suara yang
begitu merdu dan mahraj yang fasih. Ya.
Adzan itu mirip dengan irama adzan Hadramaut.
Itu adalah nada adzan favoritnya. Berpasang-pasang telinga yang mendengarnya
terenyuh ingin mendengar lebih lama dan lebih dekat lagi. Masjid itu lebih
ramai dari biasanya jama’ah isya’.
Adzan usai. Jama’ah
yang berada di masjid itu larut dalam sunnah rawatib mereka. Sekitar tujuh menit berlalu tak ada tanda-tanda
imam masjid datang.
“Abah ada
tidak, le?” seseorang bertanya pada
remaja di shaf kedua.
“Abah lagi
tidak di rumah, pakde? Beliau pergi sore tadi bersama Ustadz Faruq, Ustadz
Jalil dan Ustadz Khalil” anak itu mungkin putra dari imam masjid.
Kemudian iqamat dikumandangkan oleh seorang
berperawakan tinggi dengan lantang.
“Silahkan Ustadz
Anam, menjadi imam?” seorang laki-laki paruh baya mempersilahkan Ustadz Anam
mengimami. Walaupun beliau musafir, tampaknya memang beliau sudah dikenal di
desa ini.
Sejurus
kemudian beliau melemparkan pandangannya ke arah Miqdad. Spontan Miqdad
menjulurkan tangannya. Isyarat mempersilahkan.
“Suaraku
sedang tidak enak, Nak? Masih terkena flu berkepanjangan. Nanti malah ndak
nyaman jama’ahnya. Silahkan kau yang menjadi imam?” Ustadz Anam dengan seketika
mendorong Miqdad perlahan hingga ke pengimaman.
Miqdad tak
bisa beralasan apapun. Dia kini berada di garis depan. Menjadi jenderal. Ia harus
menjalankan amanah itu dengan benar dan sebaik-baiknya. Suaranya merdu dan
fasih. Rakaat pertama ia membaca surat an-Nisa’. Rakaat kedua melantunkan akhir
surat al-Hasyr. Hampir semua jama’ah termakan oleh senandung iramanya. Tak terkecuali
seorang wanita yang berada pada shaf wanita.
Tampaknya ia menitikkan air mata ketika rakaat pertama Miqdad membaca surat
an-Nisa’. Sehingga sajadahnya pun kuyup haru oleh tangisannya. Entah apa yang
membuatnya tersedu dalam ibadah itu. Hanya dia dan Allah saja lah yang tahu.
***







0 komentar:
Post a Comment