Gerakan Menuju Pos Cita-cita "Cerpen, Puisi, Traveller, Motivasi dan Gaya Hidup menjadi tautan asa dalam sebuah Selasar Nektar Kata"

Semesta

Tuesday, May 17, 2016

Serial: Ketika Miqdad Datang (Episode 6 "Ketika Mega Merah Hilang")


Ketika Miqdad Datang

Episode 6 (Ketika Mega Merah Hilang)
Miqdad adalah seorang pria yang selalu menjaga shalat jama’ah tepat waktu. Setelah shalat maghrib maka dia akan menunggu hingga shalat isya’ tiba. Karena ia tahu bahwa jarak antara waktu maghrib dan isya’ sangat dekat. Di waktu yang singkat itu selalu digunakannya untuk me-muraja’ah hafalan al-Qur’annya. Kadang ia gunakan untuk mendengar kajian dan berdiskusi di masjid-masjid yang  dikunjunginya.
Miqdad bersandar pada tiang baris kedua masjid utama desa itu. Yaitu Masjid al-Muhajirin. Benar saja. Bibirnya sedang berkomat-kamit dengan hafalan ayat-ayat indah itu. Suaranya lirih namun terdengar fasih.
Subhanallah, merdu sekali suaramu, nak?” seseorang menepuk pundak kanan Miqdad.
Lalu ia menghentikan bacaan itu dan menolehkan pandangannya. Dilihatnya seorang berwajah senja penuh dengan kerutan di keningnya. Semua rambutnya yang terlihat adalah berwarna putih. Dengan kopiah hitam beraroma usia senja pula. Bisa jadi usia kopiah itu lebih tua dibanding usiaku saat ini? Terlukis guratan merah seperti terbakar pada setiap sisi kopiah itu. Sementara kumis dan jenggotnya tersulam warna putih mayoritas merata. Yah. Beliau seperti terlihat serba putih dengan gamis orang yang telah pergi ke tanah suci. Hanya kopiahnya saja yang hitam.
Bening senyumnya menggaris tipis, “Assalamualaikum?” suara parau beliau masih terdengar merenyuh hati.
“Waalaikumsalam” Miqdad pun membalas dengan senyuman santun.
“Di mana kau belajar membaca al-Qur’an, Nak? Mahraj mu bagus. Terlebih tampaknya kau seorang hafidz, bukan?” Beliau sembari meluruskan kedua kakinya dan bersandar tepat di sampingku.
“Saya enam tahun di Ponpes Fathussa’adah, Unit dua Tulang Bawang, Ustadz?” suaranya lebih pelan dari lawan bicaranya. Begitulah Miqdad ketika berbicara kepada yang lebih tua darinya. Santun, pelan dan terlihat kelembutan hatinya.
“Ohh.. Pantas saja kau sefasih itu dalam melantunkan ayat demi ayat yang kau baca. Tapi kenapa tiba-tiba kau memanggilku ustadz? Bukankah kita baru bertemu kali ini?”  kali ini beliau sedikit mengerutkan dahinya.
“He he... dari tas kecil ini” sambil menunjuk tas kecil berwarna cokelat. Di situ tertulis dengan bordiran warna hijau. “Ustadz Khoirul Anam, bukan?”
“Kau ternyata jeli wahai anak muda! He he... lalu nama mu?”
“Nama saya adalah Muhammad Miqdad Najib, biasa dipanggil Miqdad”
“Kau asli orang sini, Nak?”
“Ndak, Ustadz. Saya hanya liburan saja di sini. Di rumah paman. Ustadz sendiri?”
“Saya di sini musafir. Bersama keluarga bersilaturrahmi ke rumah kerabat yang ada di Desa Telogo Rejo, Es Pe lima?
Setelah saling mengenal, mereka larut dalam diskusi hangat tentang agama. Sebuah majelis sederhana tak terduga. Karena masjid bukan tempat untuk sesuatu yang sia-sia. Hingga masuk waktu isya’. Karena Miqdad paling muda dari yang telah hadir di masjid itu. Maka secara otomatis Miqdad lah yang mengumandangkan adzan. Suara yang begitu merdu dan mahraj yang fasih. Ya. Adzan itu mirip dengan irama adzan Hadramaut. Itu adalah nada adzan favoritnya. Berpasang-pasang telinga yang mendengarnya terenyuh ingin mendengar lebih lama dan lebih dekat lagi. Masjid itu lebih ramai dari biasanya jama’ah isya’.
Adzan usai. Jama’ah yang berada di masjid itu larut dalam sunnah rawatib mereka. Sekitar tujuh menit berlalu tak ada tanda-tanda imam masjid datang.
“Abah ada tidak, le?” seseorang bertanya pada remaja di shaf  kedua.
“Abah lagi tidak di rumah, pakde? Beliau pergi sore tadi bersama Ustadz Faruq, Ustadz Jalil dan Ustadz Khalil” anak itu mungkin putra dari imam masjid.
Kemudian iqamat dikumandangkan oleh seorang berperawakan tinggi dengan lantang.
“Silahkan Ustadz Anam, menjadi imam?” seorang laki-laki paruh baya mempersilahkan Ustadz Anam mengimami. Walaupun beliau musafir, tampaknya memang beliau sudah dikenal di desa ini.
Sejurus kemudian beliau melemparkan pandangannya ke arah Miqdad. Spontan Miqdad menjulurkan tangannya. Isyarat mempersilahkan.
“Suaraku sedang tidak enak, Nak? Masih terkena flu berkepanjangan. Nanti malah ndak nyaman jama’ahnya. Silahkan kau yang menjadi imam?” Ustadz Anam dengan seketika mendorong Miqdad perlahan hingga ke pengimaman.
Miqdad tak bisa beralasan apapun. Dia kini berada di garis depan. Menjadi jenderal. Ia harus menjalankan amanah itu dengan benar dan sebaik-baiknya. Suaranya merdu dan fasih. Rakaat pertama ia membaca surat an-Nisa’. Rakaat kedua melantunkan akhir surat al-Hasyr. Hampir semua jama’ah termakan oleh senandung iramanya. Tak terkecuali seorang wanita yang berada pada shaf wanita. Tampaknya ia menitikkan air mata ketika rakaat pertama Miqdad membaca surat an-Nisa’. Sehingga sajadahnya pun kuyup haru oleh tangisannya. Entah apa yang membuatnya tersedu dalam ibadah itu. Hanya dia dan Allah saja lah yang tahu.
***
Share:

0 komentar:

Post a Comment

GEMPITA, Wahid Najmun Al-Farisi (Musafir Ilmu dan Cinta). Powered by Blogger.

Text Widget

"Jadilah sebaik-baik manusia, dengan selalu berbuat baik tanpa takut tak dihargai, tanpa takut tak mendapat balasan. Karena berbuat baikmu hanya ikhlas kepada Tuhan dan atas dasar kemanusiaan. Bukan karena satu pemikiran, satu agama, satu pandangan. Namun hanya satu tujuan untuk berbuat kebaikan kepada sesama."

Reriak Jiwa

Wikipedia

Search results

Sample Text

Jadikan setiap yang anda lihat, dengar dan rasakan menjadi pelajran berharga dalam hidup. Guru terbaik sepanjang zaman adalah Pengalaman. Tak peduli apakah itu pengalaman gagal atau kesuksesan.

"Tulisan adalah nyawa kedua setelah kematian"

Cloud Label

Video (4)

Formulir Kontak

Name

Email *

Message *

Followers

Total Pageviews

Powered By Blogger

Label


Religion

Religion

Blog List

Translate

Labels

Blog Archive

Blogger templates