Garis Bibir Yang Hilang
Senja merambat
perlahan di penghujung siang itu. Berjalan gontai menuju gelapnya malam. Gulita
hanya bertemankan kerlip gemintang. Di mana sang rembulan? Tampaknya sinar
mentari tak menghampirinya malam ini. Desau angin menyampaikan salam rindu pada
diriku. Dari seorang yang selalu tersenyum padaku. Dia lah sahabat kecilku.
Angin rindu
itu pula yang mempertemukan kita di permulaan malam itu. Sejuk menyergap bisu
seluruh romaku. Di pinggiran waduk kami berdialog seperti biasanya. Aku melihat
keanehan pada sahabatku. Pandangannya tajam dan cara bicaranya pun lugas. Tanpa
dibumbui candaan sedikitpun. Bahkan tak kudapati satu senyuman pun darinya. Ada
apa dengannya?
“Kau sang
pangeran senyum! Kemana senyumanmu itu, Sahabat?” pertanyaan itu terlontar
kikuk bersamaan dengan semakin dinginnya malam.
“Senyuman? Apa
itu seyuman?” tanya nya dengan wajah kebingungan.
Aku sangat
yakin bahwa ia sedang tidak bercanda denganku. Apakah dia benar-benar telah
lupa dengan senyumnya? Jika dia amnesia,
maka seharusnya tak mengingatku, bukan? Entahlah. Kupandangi sekelilingku
secara saksama. Kulihat hinggap di atas ranting pohon kopi seekor burung hantu.
Sekilas seperti menyunggingkan senyum padaku. Batinku berdesir, sementara degup
jantungku berdetak tak beraturan. Ada ketakutan di dasar hatiku. Segera aku
menarik sahabatku untuk pergi. Dan akhirnya kami pulang ke rumah masing-masing.
Keesokan harinya...
Ayah dan Ibu
menyapaku dengan senyuman di meja makan. Kucoba membalas senyuman mereka. Tak disangka
aku pun tak bisa. Bahkan kutarik kedua pipiku agar bisa tersenyum. Namun nihil
hasilnya. Apa yang terjadi? Tiba-tiba aku teringat kejadian semalam besama sahabatku.
Ya. Burung Hantu pencuri senyuman.







0 komentar:
Post a Comment