Gerakan Menuju Pos Cita-cita "Cerpen, Puisi, Traveller, Motivasi dan Gaya Hidup menjadi tautan asa dalam sebuah Selasar Nektar Kata"

Semesta

Sunday, June 12, 2016

Flash Fiction: Garis Bibir Yang Hilang



Garis Bibir Yang Hilang

Senja merambat perlahan di penghujung siang itu. Berjalan gontai menuju gelapnya malam. Gulita hanya bertemankan kerlip gemintang. Di mana sang rembulan? Tampaknya sinar mentari tak menghampirinya malam ini. Desau angin menyampaikan salam rindu pada diriku. Dari seorang yang selalu tersenyum padaku. Dia lah sahabat kecilku.
Angin rindu itu pula yang mempertemukan kita di permulaan malam itu. Sejuk menyergap bisu seluruh romaku. Di pinggiran waduk kami berdialog seperti biasanya. Aku melihat keanehan pada sahabatku. Pandangannya tajam dan cara bicaranya pun lugas. Tanpa dibumbui candaan sedikitpun. Bahkan tak kudapati satu senyuman pun darinya. Ada apa dengannya?
“Kau sang pangeran senyum! Kemana senyumanmu itu, Sahabat?” pertanyaan itu terlontar kikuk bersamaan dengan semakin dinginnya malam.
“Senyuman? Apa itu seyuman?” tanya nya dengan wajah kebingungan.
Aku sangat yakin bahwa ia sedang tidak bercanda denganku. Apakah dia benar-benar telah lupa dengan senyumnya? Jika dia amnesia, maka seharusnya tak mengingatku, bukan? Entahlah. Kupandangi sekelilingku secara saksama. Kulihat hinggap di atas ranting pohon kopi seekor burung hantu. Sekilas seperti menyunggingkan senyum padaku. Batinku berdesir, sementara degup jantungku berdetak tak beraturan. Ada ketakutan di dasar hatiku. Segera aku menarik sahabatku untuk pergi. Dan akhirnya kami pulang ke rumah masing-masing.
Keesokan harinya...
Ayah dan Ibu menyapaku dengan senyuman di meja makan. Kucoba membalas senyuman mereka. Tak disangka aku pun tak bisa. Bahkan kutarik kedua pipiku agar bisa tersenyum. Namun nihil hasilnya. Apa yang terjadi? Tiba-tiba aku teringat kejadian semalam besama sahabatku. Ya. Burung Hantu pencuri senyuman.
Share:

0 komentar:

Post a Comment

GEMPITA, Wahid Najmun Al-Farisi (Musafir Ilmu dan Cinta). Powered by Blogger.

Text Widget

"Jadilah sebaik-baik manusia, dengan selalu berbuat baik tanpa takut tak dihargai, tanpa takut tak mendapat balasan. Karena berbuat baikmu hanya ikhlas kepada Tuhan dan atas dasar kemanusiaan. Bukan karena satu pemikiran, satu agama, satu pandangan. Namun hanya satu tujuan untuk berbuat kebaikan kepada sesama."

Reriak Jiwa

Wikipedia

Search results

Sample Text

Jadikan setiap yang anda lihat, dengar dan rasakan menjadi pelajran berharga dalam hidup. Guru terbaik sepanjang zaman adalah Pengalaman. Tak peduli apakah itu pengalaman gagal atau kesuksesan.

"Tulisan adalah nyawa kedua setelah kematian"

Cloud Label

Video (4)

Formulir Kontak

Name

Email *

Message *

Followers

Total Pageviews

Powered By Blogger

Label


Religion

Religion

Blog List

Translate

Labels

Blog Archive

Blogger templates