“Salma,
maafkan aku atas kejadian kemarin. Aku benar-benar menyesal,” gadis berwajah
tirus itu tiba-tiba memeluk Salma. Kejadian itu pun dilihat masyarakat kampus
yang lalu lalang. Mereka berpelukan tepat di jalan paving jalur menuju gedung
rektorat.
“Iya, Bilqis. Aku
maafkan, bahkan sebelum kau meminta maaf,” Salma dengan sepasang ibu jarinya
menghapuskan air mata Bilqis. Air mata itu sempat mengaliri wajah Bilqis. Sehingga
di kedua pipinya terlihat gurat-gurat seperti sungai yang kering. Maklum saja. Kendati
pun Bilqis memakai khimar dan jilbab besar, ia selalu memoles wajah tirusnya
dengan bedak. Walaupun hanya sedikit saja.
“Salma,
izinkan aku menjadi sahabatmu. Kamu adalah seseorang yang tepat untuk
mengingatkanku disaat aku tersesat. Aku ingin menjadi wanita shalehah
sepertimu,” Bilqis terlihat berharap. Menunggu kepastian dari Salma yang
wajahnya selalu berseri-seri dengan senyuman. “Salma? Apakah kau mau menjadi
sahabatku?” imbuh Bilqis. Suaranya terdengar berharap beraroma memaksa.
“Jika engkau
berharap aku untuk selalu menasehatimu. Aku takut ketika kita memang harus
berjauhan jarak. Jika kau ingin menjadi sepertiku. Maaf, aku tidak se-shalehah
yang kau lihat dari parasku. Dan aku tidak akan pernah mampu mengubahmu menjadi
sepertiku. Namun jika kau ingin menjadi sahabatku. Lalu kita bersama-sama
memperbaiki diri dan saling mengingatkan dalam kebenaran dan kesabaran. Maka akan
aku jawab dengan tegas bahwa aku siap. Karena sahabat bukan yang selalu ada di
samping kita. Melainkan yang selalu menyebut nama sahabatnya dalam doa. Sedang di
dunia nyata selalu berbagi cerita. Untuk bersama-sama menjadi lebih baik dari
hari-hari sebelumnya,” Bilqis semakin kalut berselimut haru. Tak terasa ia
mengucurkan air matanya kembali. Hingga membuat samudera di atas pipinya. “Nah,
wajahmu terlihat lebih natural dari sebelumnya. He he,” Salma pun tersenyum. Sedangkan
Bilqis kembali memeluk seorang gadis yang kini telah menjadi sahabatnya.
Semoga
persahabatan mereka mendapatkan Ridha dan Barakah dari Allah Tuhan Semesta. Aamiin...
Persahabatan
terbaik adalah yang beratapkan kebenaran dan takwa. Sedangkan sahabat terindah
adalah sahabat yang selalu menyebut nama dalam doa. Serta berjalan bersama
dalam keadaan sabar yang membara. Jika kau labuhkan kepercayaanmu pada sahabat
yang tepat. Niscaya hidupmu terasa lebih nikmat. Bekal yang banyak akan kau
dapat kelak di akhirat







0 komentar:
Post a Comment