Gerakan Menuju Pos Cita-cita "Cerpen, Puisi, Traveller, Motivasi dan Gaya Hidup menjadi tautan asa dalam sebuah Selasar Nektar Kata"

Semesta

Tuesday, August 23, 2016

Flash Fiction: Sahabat





“Salma, maafkan aku atas kejadian kemarin. Aku benar-benar menyesal,” gadis berwajah tirus itu tiba-tiba memeluk Salma. Kejadian itu pun dilihat masyarakat kampus yang lalu lalang. Mereka berpelukan tepat di jalan paving jalur menuju gedung rektorat.
“Iya, Bilqis. Aku maafkan, bahkan sebelum kau meminta maaf,” Salma dengan sepasang ibu jarinya menghapuskan air mata Bilqis. Air mata itu sempat mengaliri wajah Bilqis. Sehingga di kedua pipinya terlihat gurat-gurat seperti sungai yang kering. Maklum saja. Kendati pun Bilqis memakai khimar dan jilbab besar, ia selalu memoles wajah tirusnya dengan bedak. Walaupun hanya sedikit saja.
“Salma, izinkan aku menjadi sahabatmu. Kamu adalah seseorang yang tepat untuk mengingatkanku disaat aku tersesat. Aku ingin menjadi wanita shalehah sepertimu,” Bilqis terlihat berharap. Menunggu kepastian dari Salma yang wajahnya selalu berseri-seri dengan senyuman. “Salma? Apakah kau mau menjadi sahabatku?” imbuh Bilqis. Suaranya terdengar berharap beraroma memaksa.
“Jika engkau berharap aku untuk selalu menasehatimu. Aku takut ketika kita memang harus berjauhan jarak. Jika kau ingin menjadi sepertiku. Maaf, aku tidak se-shalehah yang kau lihat dari parasku. Dan aku tidak akan pernah mampu mengubahmu menjadi sepertiku. Namun jika kau ingin menjadi sahabatku. Lalu kita bersama-sama memperbaiki diri dan saling mengingatkan dalam kebenaran dan kesabaran. Maka akan aku jawab dengan tegas bahwa aku siap. Karena sahabat bukan yang selalu ada di samping kita. Melainkan yang selalu menyebut nama sahabatnya dalam doa. Sedang di dunia nyata selalu berbagi cerita. Untuk bersama-sama menjadi lebih baik dari hari-hari sebelumnya,” Bilqis semakin kalut berselimut haru. Tak terasa ia mengucurkan air matanya kembali. Hingga membuat samudera di atas pipinya. “Nah, wajahmu terlihat lebih natural dari sebelumnya. He he,” Salma pun tersenyum. Sedangkan Bilqis kembali memeluk seorang gadis yang kini telah menjadi sahabatnya.
Semoga persahabatan mereka mendapatkan Ridha dan Barakah dari Allah Tuhan Semesta. Aamiin...
Persahabatan terbaik adalah yang beratapkan kebenaran dan takwa. Sedangkan sahabat terindah adalah sahabat yang selalu menyebut nama dalam doa. Serta berjalan bersama dalam keadaan sabar yang membara. Jika kau labuhkan kepercayaanmu pada sahabat yang tepat. Niscaya hidupmu terasa lebih nikmat. Bekal yang banyak akan kau dapat kelak di akhirat
Share:

0 komentar:

Post a Comment

GEMPITA, Wahid Najmun Al-Farisi (Musafir Ilmu dan Cinta). Powered by Blogger.

Text Widget

"Jadilah sebaik-baik manusia, dengan selalu berbuat baik tanpa takut tak dihargai, tanpa takut tak mendapat balasan. Karena berbuat baikmu hanya ikhlas kepada Tuhan dan atas dasar kemanusiaan. Bukan karena satu pemikiran, satu agama, satu pandangan. Namun hanya satu tujuan untuk berbuat kebaikan kepada sesama."

Reriak Jiwa

Wikipedia

Search results

Sample Text

Jadikan setiap yang anda lihat, dengar dan rasakan menjadi pelajran berharga dalam hidup. Guru terbaik sepanjang zaman adalah Pengalaman. Tak peduli apakah itu pengalaman gagal atau kesuksesan.

"Tulisan adalah nyawa kedua setelah kematian"

Cloud Label

Video (4)

Formulir Kontak

Name

Email *

Message *

Followers

Total Pageviews

Powered By Blogger

Label


Religion

Religion

Blog List

Translate

Labels

Blog Archive

Blogger templates