Gerakan Menuju Pos Cita-cita "Cerpen, Puisi, Traveller, Motivasi dan Gaya Hidup menjadi tautan asa dalam sebuah Selasar Nektar Kata"

Semesta

Sunday, May 1, 2016

Serial: Ketika Miqdad Datang (Episode 1 "Hamparan Sawah")


Ketika Miqdad Datang
Episode. 1 (Hamparan Sawah)

 “Paman, ia begitu mempesona. Siapa dia?” celetuk seorang keponakan laiki-laki di dekatnya.
“Oh itu?” sambil menjulurkan telunjuknya ke arah gadis berambut ikal. Berwarna hitam namun bercampur kemerah-merahan. Dia berjalan pada sebuah galengan sawah. Memakai pakaian adat sedikit loggar namun dengan warna yang mulai memudar. Dia sedikit mirip dengan orang-orangan sawah yang baru saja aku buat. Lalu kupasang di tengah-tengah sawah paman. “Itu anaknya pak lurah le, namanya Dwi Nurfalah kenapa? Kamu menyukainya?” paman tertawa kecil meledekku. Ia menggoyangkan capil dari anyaman bambu yang kupakai. Seraya berkata ”hati-hati kalau kam naksir dengannya, dia anak orang kaya le. Terlebih sekarang ayahnya seorang lurah.”
“Ahh... paman ada-ada saja. Aku hanya bertanya saja, tak bermaksud lain. Tidak mungkin Miqdad menyukai gadis sepertinya.” Sembari melihat ke atas langit. Lelaki bernama lengkap Miqdad al-Faruq. Pamannya sering memanggilnya dengan le atau tole. Itu sebuah panggilan dalam bahasa Jawa.
Matahari siang ini teriknya menghujam aku dan paman. Laksana lidah api yang menggulung-gulung membakar kulitku. Walau telah terlapisi kain basahan ini, tapi tetap saja menyengat. Kulihat matahari berputar berwarna biru pekat. Ini yang aku suka “Ha’ chinnnn Alhamdulillah”. Aku bersin berkali-kali.
“Ya arhamukallah” jawabnya.
“Yahdiukumullah” timpalku.
Kupandangi secara seksama bayang-bayang tubuhku. Hitam merayap di belakangku. Ini menunjukkan bahwa hari telah memasuki waktu dzuhur. Karena matahari telah tergelincir dari titik kulminasinya. Kulihat jam digital yang terpampang di hape cegceng po ku. Menunujukkan pukul 12:40 WIB. Di sawah ini sangat sulit mendengarkan adzan. Karena sangat jauh dari pemukiman. Jika ditempuh dengan sepeda motor saja butuh waktu lima belas menit. Jadi wajar kalau kita terlewat untuk shalat tepat waktu.
“Man, paman! Ayo shalat dahulu?” ajakku sambil beranjak menuju galengan. Kuletakkan setekaman rumput yang baru saja aku cabut. Begitu pula dengan paman.
“Sudah masuk waktu dzuhur toh le?” paman melihat mentari. Namun keningnya mengernyit lalu matanya ia sipitkan. Tak kuasa menahan sinar panas itu.
Segera kami mengambil air wudlu di sungai dekat gubuk paman. Di sana airnya jernih dan segar. Lalu dengan cepat kami menuju gubuk. Tak tahan bila berlama-lama di bawah terik fajar tanpa penutup badan. Kami sahalat dengan sarung bersih dan baju khusus shalat yang telah dipersiapkan sebalumnya.
“Arah kiblatnya kemana paman? silahkan paman menjadi imamnya?” telapak tangan kiri kutempelkan pada sikut tangan kananku. Itu sebuah isyarat bahwa aku mempersilahkannya. Karena baru pertama kali ini aku liburan ke sini. Desa Sidang Bandar Anom. Dahulu desa ini termasuk dari kabupaten Tulang Bawang. Namun karena pemekaran, desa ini ikut kecamatan Rawa Jitu Utara yang berkabupaten Mesuji.
“Kamu saja yang imam le? Yang lebih bagus bacaannya dan lebih banyak hafalannya ketimbang paman.” paman mendorongku ke depan utnuk menjadi imam. “Kalau tidak salah ke arah sini le.” Ia menunjuk arah tergelincirnya matahari. Mungkin saja itu adalah arah barat tepatnya. Tapi arah kiblat kan sedikit menyerong ke arah utara? Batinku mengingatkan. Aku ragu-ragu. Lalu kulihat jam menunjukkan pukul 12:50.
Segera kubuka buku berjudul Metode Mengukur Arah Kiblat dan Jadwal Rashdul Kiblah Lampung. Buku itu karya Drs. A. Jamil, M. Sy. Dosen Ilmu Falak satu dan dua ku ketika kuliah strata satu di Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN) Jurai Siwo Metro lima tahun yang lalu. Sekarang telah alih status menjadi Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Metro. Nama Jurai Siwo dihilangkan. Mungkin karena itu identik dengan kabupaten Lampung Tengah. Kubuka tepat halaman 77. Tanggal dua puluh lima Maret pukul 12:55 WIB untuk melihat dengan jelas menggunakan matahari. Mana arah kiblat sebenarnya di daerah Rawa Jitu Utara ini.
Kupandangi bayang-bayang gubuk ini menyerong ke arah utara. Walaupun belum tepat, karena kurang tiga menit lagi. Akhirnya pukul 12:55 WIB tepat aku melihat bayang-bayang benda yang yakin dari sebelumnya. Paman pun terlihat bingung dan hanya bengong menunggu imamnya tak segera takbiratul ihram. Ada raut wajah menanti dalam keletihan yang menderanya. Perutnya mulai terdengar lirih bertabuh. Tapi ia sembunyikan rasa lapar itu. Walau waktu dzuhur masih lama habisnya. Paman akan tetap berusaha untuk shalat lebih awal tanpa menunda-nundanya.
Akhirnya aku memulai shalat dzuhur itu. Dan kami pun larut dalam sujud yang haru. Semilir angin meniup sedikit kencang. Sarung kotak-kotak paman berkibar. Namun dengan sigap ia usahakan kakinya sedikit rapat hingga menjepit sarung supaya tak terbang. Begitu pula denganku. Rasa panas yang sedari tadi semromong mulai melebur menjadi semilir yang menjenakkan. Kami makin hanyut dalam munajat sembah sebagai seorang hamba-Nya. Tenggelam dalam dzikir dan lantunan ayat suci Al-Qur’an yang ku hafal.
Seusai shalat kami membuka bekal untuk makan siang. Perut ini mulai bertabuh kencang. Lambung telah perotes akan keterlambatan suplai pengiriman makanan. Segera pula kami menikmati makanan yang dibawa.
“Paman sudah membaca Basmallah?” tanyaku pada paman. Mulutnya tampak penuh dengan makanan.
Segera ia mengunyahnya lalu menelannya. “Bagaiamana do’anya le? Paman lupa. Dulu ndak tahu sekarang lupa he he” meringis melumat wajahku.
“Bismillahi Al-awwalu Wa Akhiraahu” paman pun mengikuti ucapanku.
Kualihkan pandanganku jauh ke arah depan. Di sana masih terlihat gadis yang sebelum shalat tadi ia tanyakan kepada pamannya.   Ya. Kuingat namanya adalah Dwi Nurfalah. Sedang apa dia sedari tadi di sini? Tapi kali ini ia tak sendirian. Tampak terlihat dua orang laki-laki di sampingnya. Yang satu berpakaian seperti pakaian lurah. Apakah ayahnya atau bukan aku tak tahu. Sedangkan yang satu terlihat memakai jeans ketat. Itu salah satu celana yang paling dibenci Miqdad. Sempit, susah dipakai dan susah melepasnya. Dan yang paling parah adalah susah bila ingin buang air kecil. Berpakaian lebih modis. Tapi sangat aneh. Diterik matahari begini, di lokasi persawahan begini, kenapa memakai pakaian seperti mau konser saja. Batinku cekakakan geli.

B E R S A M B U N G . . . 

Selamat menunggu serial berikutnya.... he he
Episode Selanjutnya
Share:

0 komentar:

Post a Comment

GEMPITA, Wahid Najmun Al-Farisi (Musafir Ilmu dan Cinta). Powered by Blogger.

Text Widget

"Jadilah sebaik-baik manusia, dengan selalu berbuat baik tanpa takut tak dihargai, tanpa takut tak mendapat balasan. Karena berbuat baikmu hanya ikhlas kepada Tuhan dan atas dasar kemanusiaan. Bukan karena satu pemikiran, satu agama, satu pandangan. Namun hanya satu tujuan untuk berbuat kebaikan kepada sesama."

Reriak Jiwa

Wikipedia

Search results

Sample Text

Jadikan setiap yang anda lihat, dengar dan rasakan menjadi pelajran berharga dalam hidup. Guru terbaik sepanjang zaman adalah Pengalaman. Tak peduli apakah itu pengalaman gagal atau kesuksesan.

"Tulisan adalah nyawa kedua setelah kematian"

Cloud Label

Video (4)

Formulir Kontak

Name

Email *

Message *

Followers

Total Pageviews

Powered By Blogger

Label


Religion

Religion

Blog List

Translate

Labels

Blog Archive

Blogger templates