Ketika Miqdad Datang
Episode. 1 (Hamparan Sawah)
“Paman, ia
begitu mempesona. Siapa dia?” celetuk seorang keponakan laiki-laki di dekatnya.
“Oh itu?”
sambil menjulurkan telunjuknya ke arah gadis berambut ikal. Berwarna hitam
namun bercampur kemerah-merahan. Dia berjalan pada sebuah galengan sawah. Memakai pakaian adat sedikit loggar namun dengan
warna yang mulai memudar. Dia sedikit mirip dengan orang-orangan sawah yang
baru saja aku buat. Lalu kupasang di tengah-tengah sawah paman. “Itu anaknya
pak lurah le, namanya Dwi Nurfalah
kenapa? Kamu menyukainya?” paman tertawa kecil meledekku. Ia menggoyangkan capil dari anyaman bambu yang kupakai. Seraya
berkata ”hati-hati kalau kam naksir dengannya, dia anak orang kaya le. Terlebih sekarang ayahnya seorang lurah.”
“Ahh... paman
ada-ada saja. Aku hanya bertanya saja, tak bermaksud lain. Tidak mungkin Miqdad
menyukai gadis sepertinya.” Sembari melihat ke atas langit. Lelaki bernama
lengkap Miqdad al-Faruq. Pamannya sering memanggilnya dengan le atau tole. Itu sebuah panggilan dalam bahasa Jawa.
Matahari siang
ini teriknya menghujam aku dan paman. Laksana lidah api yang menggulung-gulung
membakar kulitku. Walau telah terlapisi kain basahan ini, tapi tetap saja menyengat. Kulihat matahari berputar
berwarna biru pekat. Ini yang aku suka “Ha’
chinnnn Alhamdulillah”. Aku bersin
berkali-kali.
“Ya arhamukallah” jawabnya.
“Yahdiukumullah” timpalku.
Kupandangi secara
seksama bayang-bayang tubuhku. Hitam merayap di belakangku. Ini menunjukkan
bahwa hari telah memasuki waktu dzuhur. Karena matahari telah tergelincir dari
titik kulminasinya. Kulihat jam digital yang terpampang di hape cegceng po ku. Menunujukkan pukul 12:40 WIB. Di sawah ini sangat
sulit mendengarkan adzan. Karena sangat jauh dari pemukiman. Jika ditempuh dengan
sepeda motor saja butuh waktu lima belas menit. Jadi wajar kalau kita terlewat
untuk shalat tepat waktu.
“Man, paman! Ayo
shalat dahulu?” ajakku sambil beranjak menuju galengan. Kuletakkan setekaman rumput yang baru saja aku cabut. Begitu
pula dengan paman.
“Sudah masuk waktu
dzuhur toh le?” paman melihat
mentari. Namun keningnya mengernyit lalu matanya ia sipitkan. Tak kuasa menahan
sinar panas itu.
Segera kami
mengambil air wudlu di sungai dekat gubuk paman. Di sana airnya jernih dan
segar. Lalu dengan cepat kami menuju gubuk. Tak tahan bila berlama-lama di
bawah terik fajar tanpa penutup badan. Kami sahalat dengan sarung bersih dan
baju khusus shalat yang telah dipersiapkan sebalumnya.
“Arah
kiblatnya kemana paman? silahkan paman menjadi imamnya?” telapak tangan kiri
kutempelkan pada sikut tangan kananku. Itu sebuah isyarat bahwa aku
mempersilahkannya. Karena baru pertama kali ini aku liburan ke sini. Desa
Sidang Bandar Anom. Dahulu desa ini termasuk dari kabupaten Tulang Bawang. Namun
karena pemekaran, desa ini ikut kecamatan Rawa Jitu Utara yang berkabupaten
Mesuji.
“Kamu saja
yang imam le? Yang lebih bagus
bacaannya dan lebih banyak hafalannya ketimbang paman.” paman mendorongku ke
depan utnuk menjadi imam. “Kalau tidak salah ke arah sini le.” Ia menunjuk arah tergelincirnya matahari. Mungkin saja itu
adalah arah barat tepatnya. Tapi arah kiblat kan sedikit menyerong ke arah
utara? Batinku mengingatkan. Aku ragu-ragu. Lalu kulihat jam menunjukkan pukul
12:50.
Segera kubuka
buku berjudul Metode Mengukur Arah Kiblat
dan Jadwal Rashdul Kiblah Lampung. Buku itu karya Drs. A. Jamil, M. Sy. Dosen
Ilmu Falak satu dan dua ku ketika kuliah strata satu di Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN) Jurai Siwo Metro lima tahun
yang lalu. Sekarang telah alih status menjadi Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Metro. Nama Jurai Siwo
dihilangkan. Mungkin karena itu identik dengan kabupaten Lampung Tengah. Kubuka
tepat halaman 77. Tanggal dua puluh lima Maret pukul 12:55 WIB untuk melihat
dengan jelas menggunakan matahari. Mana arah kiblat sebenarnya di daerah Rawa
Jitu Utara ini.
Kupandangi bayang-bayang
gubuk ini menyerong ke arah utara. Walaupun belum tepat, karena kurang tiga
menit lagi. Akhirnya pukul 12:55 WIB tepat aku melihat bayang-bayang benda yang
yakin dari sebelumnya. Paman pun terlihat bingung dan hanya bengong menunggu
imamnya tak segera takbiratul ihram. Ada
raut wajah menanti dalam keletihan yang menderanya. Perutnya mulai terdengar
lirih bertabuh. Tapi ia sembunyikan rasa lapar itu. Walau waktu dzuhur masih
lama habisnya. Paman akan tetap berusaha untuk shalat lebih awal tanpa
menunda-nundanya.
Akhirnya aku
memulai shalat dzuhur itu. Dan kami pun larut dalam sujud yang haru. Semilir angin
meniup sedikit kencang. Sarung kotak-kotak paman berkibar. Namun dengan sigap
ia usahakan kakinya sedikit rapat hingga menjepit sarung supaya tak terbang. Begitu
pula denganku. Rasa panas yang sedari tadi semromong
mulai melebur menjadi semilir yang menjenakkan. Kami makin hanyut dalam munajat
sembah sebagai seorang hamba-Nya. Tenggelam dalam dzikir dan lantunan ayat suci
Al-Qur’an yang ku hafal.
Seusai shalat
kami membuka bekal untuk makan siang. Perut ini mulai bertabuh kencang. Lambung
telah perotes akan keterlambatan suplai pengiriman makanan. Segera pula kami
menikmati makanan yang dibawa.
“Paman sudah
membaca Basmallah?” tanyaku pada
paman. Mulutnya tampak penuh dengan makanan.
Segera ia
mengunyahnya lalu menelannya. “Bagaiamana do’anya le? Paman lupa. Dulu ndak tahu sekarang lupa he he” meringis
melumat wajahku.
“Bismillahi Al-awwalu Wa Akhiraahu”
paman pun mengikuti ucapanku.
Kualihkan pandanganku
jauh ke arah depan. Di sana masih terlihat gadis yang sebelum shalat tadi ia
tanyakan kepada pamannya. Ya. Kuingat namanya adalah Dwi Nurfalah. Sedang
apa dia sedari tadi di sini? Tapi kali ini ia tak sendirian. Tampak terlihat
dua orang laki-laki di sampingnya. Yang satu berpakaian seperti pakaian lurah. Apakah
ayahnya atau bukan aku tak tahu. Sedangkan yang satu terlihat memakai jeans ketat. Itu salah satu celana yang
paling dibenci Miqdad. Sempit, susah dipakai dan susah melepasnya. Dan yang
paling parah adalah susah bila ingin buang air kecil. Berpakaian lebih modis. Tapi
sangat aneh. Diterik matahari begini, di lokasi persawahan begini, kenapa
memakai pakaian seperti mau konser saja. Batinku cekakakan geli.
B E R S A M B U N G . . .
Selamat menunggu serial berikutnya.... he he
Episode Selanjutnya
Episode Selanjutnya







0 komentar:
Post a Comment