Gerakan Menuju Pos Cita-cita "Cerpen, Puisi, Traveller, Motivasi dan Gaya Hidup menjadi tautan asa dalam sebuah Selasar Nektar Kata"

Semesta

Thursday, May 5, 2016

Serial: Ketika Miqdad Datang (Episode 2 "Rinai Pertemuan di Gubuk Sawah")


Ketika Miqdad Datang
Episode 2 (Rinai Pertemuan di Gubuk Sawah)

Setelah makan aku dan paman beristirahat sejenak. Memejamkan sepasang mata di bawah gubuk sederhana ini. Bagiku tidur di tengah sawah adalah suatu hal yang kuinginkan sejak lama. Dan kini aku merasakan bagaimana nikmatnya menjadi seorang petani. Ya di sini aku merasakan pahit manisnya menjadi petani. Ketika keringat bercucuran bak badai. Maka segera tersapu oleh desau semilir angin segar. Tak ada asap kendaraan maupun efek rumah kaca. Sehingga hampir tak ada polusi di sini. Hamparan sawah menari gemulai. Langit membiru dalam seringai senyum. Sejenak terasa gelap. Aku terlelap.
Aku seperti mendengar percakapan. Suara itu terdengar parau kadang lembut menyisir bulu romaku. Dingin mulai memeluk dan mencekam. Hatiku berdesir secara tak sadar. Jantungku berdetak memompa tak karuan. Hal seperti ini hanya akan terjadi apabila aku berdiri di hadapan wanita. Ya wanita. Mereka selalu membuatku lemah tak berdaya. Baik itu senyumnya, ucapannya, tangisannya dan semua tentang mereka. Dimulai dari nenek, ibu, sahabat, saudara maupun teman-teman wanitaku. Aku tak pernah tahu yang namanya cinta. Karena sampai saat ini aku tetap masih sendiri. Karena tak bisa berlama-lama bila di dekat wanita. Tapi untuk ibu dan saudara hingga sahabat aku betah bersama mereka.
Seperti ada yang menyentuhku? Siapa dia? Tak menyentuh dengan seuntai tangan maupun sepasang tangan. Namun sentuhan itu terasa hangat dengan punggungnya. Tapi punggungnya terasa semakin dingin mencekam. Membuat jantungku semakin menggelegar. Dingin itu bukan menusuk kulitku saja. Melainkan menusuk hingga relung hati ini. Setelah itu mulai terdengar gemericik hujan. Suara dentaman bersambut dengan cahaya kilap seperti cahaya foto.
Duarrrrrr drrrrrrrrrrrrrrrrr. Aku terperanjat dan bangkit dari tempat dimana aku terlelap. Terbangun bukan karena guntur menggelegar. Namun bangun karena mendengar orang selain aku yang berteriak kaget.
“Kok sudah bangun?” tanya seorang lelaki berkumis tebal. Berbadan lumayan kekar. Memakai pakaian seperti pegawai desa.
Le... ini Pak Lurah. Dan yang dua ini anak-anaknya beliau.” Sahut pamanku.
Kupandangi dua orang anak Pak Lurah. Yang satu terlihat modis dengan gaya anak zaman sekarang. Gadis di sampingnya lebih sederhana. Ia mengenakan pakaian basahan yang ukurannya terlalu besar. Tampilan yang sangat natural. Namun sayang rambutnya yang ikal memanjang dibiarkan terurai. Aku hanya berandai jika saja ia memakai hijab atau minimal kerudung dahulu. Pasti semakin cantik luar dalam. Sekitar setengah menit diam memandangnya.
“Astaghfirullah” kupalingkan wajahku.
Terjangan angin semakin kencang. Rumpun padi yang sebelumnya menari-nari riang gemulai. Kini tariannya cepat dan tak terarah. Hingga menyadarkanku. Jadi selama ini aku terlelap di gubuk ini. Kenapa paman tak membangunkanku? Padahal ada Pak Lurah yang numpang ngiyup. Aku juga kenapa tak mendengar suara hujan yang lebat ini? Teringat akan ucapan ibu. Bahwa hujan sederas atau selebat apapun tak akan terbangun. Bahkan suara guntur pun tak bisa membangunkan. Hanya hati yang tenang dan keinginan bangun dariku saja yang bisa menggugahku. Ahh.. parahnya diriku ini.
“Sejak kapan Pak Lurah ngiyup?” pertanyaan itu kulemparkan pada pria berkumis tebal di hadapanku.
“Sejak hujan turun dengan lebat tadi mas, maaf telah mengganggu tidurmu” jawab Pak Lurah.
“Suara guntur saja tak membuatnya terbangun. Apalagi suara kita. Tidak mungkin kita yang membangunkan” Celetuk gadis ayu di samping Pak Lurah. Seringai senyumnya menggaris syhadu dengan malu-malu.
Aku tersipu malu. Terdiam membisu. Bukan karena lemah gemulai. Namun karena aku memiliki jiwa malu yang luar biasa bila di dekat wanita. Terlebih ia adalah wanita yang tak pernah kujumpai.
“Suara guntur bukan tak bisa membangunkannya. Melainkan suaranya tak berani lebih keras. Karena kalah merdu dengan suara dengkuran le Miqdad. He he” paman bergumam pada gadis di dekatnya itu. Paman sengaja mencantumkan namaku dalam ungkapannya.
“Jadi namanya Miqdad? Perkenalkan nama saya Falah.” Sejurus kemudian gadis itu menjulurkan tangannya ke depan. Isyarat perkenalan itu masih saja langeng hingga kini. Dan kalau saja dia seorang laki-laki. Maka dengan segera aku menyambut perkenalan itu dengan berjabat tangan. Sayangnya di seorang perempuan yang aku tak halal menyentuhnya.
Semua pasang mata bersiap menusukku dengan panah mereka. Busur itu telah di tarik. Aku dihadapkan antara iya atau tidak. Kalau aku mengacuhkan tangan itu alangkah sombongnya diriku. Mereka pasti menganggap aku sok suci. Jika aku terima maka berdosalah aku telah menyentuh seseorang yang bukan muhrim denganku.
Kalau saja dia bilang dari awal mau berkenalan denganku. Maka aku bersiap-siap untuk melumuri tanganku dengan tanah. Supaya ada alasan untuk tak menjabatnya. Namun ia serta merta langsung menjulurkan tangannya. Tangan yang terlihat berkulit sawo matang itu halus. Tiba-tiba terbayang guratan api menyala pada tangan itu.
“Iya nama saya Miqdad” kedua telapak tanganku beradu. “Maaf tak bisa menjabat tanganmu. Telapak tangan ini sedang sakit. Tampaknya ini awal mula sakit kapalan” kusunggingkan senyum pelipur kecewa untuknya.
“Ohh iya. Tidak apa-apa” ia tarik kembali tangannya dengan sedikit kecewa. Namun kulihat dia memahami maksudku. Walaupun sebenarnya aku sedikit berbohong.
“Biasanya pegangan sehari-hari pena dan laptop. Liburan ke tempat paman malah pegang sabit, cangkul dan lain sebagainya. Wajar saja kalau kapalan.” Paman sambil mengepulkan asap rokok lintingannya. Asapnya lebih tebal dan lebih sesak bila terhirup daripada rokok pabrikan.
Aku, paman, Pak Lurah dan gadis bernama Falah semakin hangat bercerita dalam. Gemericik yang semakin reda. Sementara pria dengan pakaian modis itu hanya diam membisu. Dia seperti tak ingin berbaur dengan kita. Wajahnya terlihat ingin berbaur dengan kami. Namun seolah ada yang mengganjal hatinya. Apakah dia membenciku? Tapi kita belum pernah bertemu sebelumnya. Entahlah, aku sendiri tak berani bertanya dengan walau sekedar basa-basi dengannya. Tampaknya apatis telah menyusup hatinya. Maybe.

Share:

0 komentar:

Post a Comment

GEMPITA, Wahid Najmun Al-Farisi (Musafir Ilmu dan Cinta). Powered by Blogger.

Text Widget

"Jadilah sebaik-baik manusia, dengan selalu berbuat baik tanpa takut tak dihargai, tanpa takut tak mendapat balasan. Karena berbuat baikmu hanya ikhlas kepada Tuhan dan atas dasar kemanusiaan. Bukan karena satu pemikiran, satu agama, satu pandangan. Namun hanya satu tujuan untuk berbuat kebaikan kepada sesama."

Reriak Jiwa

Wikipedia

Search results

Sample Text

Jadikan setiap yang anda lihat, dengar dan rasakan menjadi pelajran berharga dalam hidup. Guru terbaik sepanjang zaman adalah Pengalaman. Tak peduli apakah itu pengalaman gagal atau kesuksesan.

"Tulisan adalah nyawa kedua setelah kematian"

Cloud Label

Video (4)

Formulir Kontak

Name

Email *

Message *

Followers

Total Pageviews

Powered By Blogger

Label


Religion

Religion

Blog List

Translate

Labels

Blog Archive

Blogger templates