Episode 2 (Rinai Pertemuan di Gubuk
Sawah)
Setelah makan
aku dan paman beristirahat sejenak. Memejamkan sepasang mata di bawah gubuk
sederhana ini. Bagiku tidur di tengah sawah adalah suatu hal yang kuinginkan
sejak lama. Dan kini aku merasakan bagaimana nikmatnya menjadi seorang petani. Ya
di sini aku merasakan pahit manisnya menjadi petani. Ketika keringat bercucuran
bak badai. Maka segera tersapu oleh desau semilir angin segar. Tak ada asap
kendaraan maupun efek rumah kaca. Sehingga hampir tak ada polusi di sini.
Hamparan sawah menari gemulai. Langit membiru dalam seringai senyum. Sejenak
terasa gelap. Aku terlelap.
Aku seperti
mendengar percakapan. Suara itu terdengar parau kadang lembut menyisir bulu
romaku. Dingin mulai memeluk dan mencekam. Hatiku berdesir secara tak sadar. Jantungku
berdetak memompa tak karuan. Hal seperti ini hanya akan terjadi apabila aku
berdiri di hadapan wanita. Ya wanita. Mereka selalu membuatku lemah tak berdaya.
Baik itu senyumnya, ucapannya, tangisannya dan semua tentang mereka. Dimulai dari
nenek, ibu, sahabat, saudara maupun teman-teman wanitaku. Aku tak pernah tahu
yang namanya cinta. Karena sampai saat ini aku tetap masih sendiri. Karena tak
bisa berlama-lama bila di dekat wanita. Tapi untuk ibu dan saudara hingga
sahabat aku betah bersama mereka.
Seperti ada
yang menyentuhku? Siapa dia? Tak menyentuh dengan seuntai tangan maupun
sepasang tangan. Namun sentuhan itu terasa hangat dengan punggungnya. Tapi punggungnya
terasa semakin dingin mencekam. Membuat jantungku semakin menggelegar. Dingin itu
bukan menusuk kulitku saja. Melainkan menusuk hingga relung hati ini. Setelah itu
mulai terdengar gemericik hujan. Suara dentaman bersambut dengan cahaya kilap
seperti cahaya foto.
Duarrrrrr drrrrrrrrrrrrrrrrr. Aku terperanjat
dan bangkit dari tempat dimana aku terlelap. Terbangun bukan karena guntur
menggelegar. Namun bangun karena mendengar orang selain aku yang berteriak
kaget.
“Kok sudah
bangun?” tanya seorang lelaki berkumis tebal. Berbadan lumayan kekar. Memakai pakaian
seperti pegawai desa.
“Le... ini Pak Lurah. Dan yang dua ini
anak-anaknya beliau.” Sahut pamanku.
Kupandangi dua
orang anak Pak Lurah. Yang satu terlihat modis dengan gaya anak zaman sekarang.
Gadis di sampingnya lebih sederhana. Ia mengenakan pakaian basahan yang ukurannya terlalu besar. Tampilan yang sangat natural.
Namun sayang rambutnya yang ikal memanjang dibiarkan terurai. Aku hanya
berandai jika saja ia memakai hijab atau minimal kerudung dahulu. Pasti semakin
cantik luar dalam. Sekitar setengah menit diam memandangnya.
“Astaghfirullah” kupalingkan wajahku.
Terjangan angin
semakin kencang. Rumpun padi yang sebelumnya menari-nari riang gemulai. Kini tariannya
cepat dan tak terarah. Hingga menyadarkanku. Jadi selama ini aku terlelap di
gubuk ini. Kenapa paman tak membangunkanku? Padahal ada Pak Lurah yang numpang ngiyup. Aku juga kenapa tak mendengar
suara hujan yang lebat ini? Teringat akan ucapan ibu. Bahwa hujan sederas atau
selebat apapun tak akan terbangun. Bahkan suara guntur pun tak bisa
membangunkan. Hanya hati yang tenang dan keinginan bangun dariku saja yang bisa
menggugahku. Ahh.. parahnya diriku ini.
“Sejak kapan
Pak Lurah ngiyup?” pertanyaan itu kulemparkan
pada pria berkumis tebal di hadapanku.
“Sejak hujan
turun dengan lebat tadi mas, maaf telah mengganggu tidurmu” jawab Pak Lurah.
“Suara guntur
saja tak membuatnya terbangun. Apalagi suara kita. Tidak mungkin kita yang
membangunkan” Celetuk gadis ayu di samping Pak Lurah. Seringai senyumnya
menggaris syhadu dengan malu-malu.
Aku tersipu
malu. Terdiam membisu. Bukan karena lemah gemulai. Namun karena aku memiliki
jiwa malu yang luar biasa bila di dekat wanita. Terlebih ia adalah wanita yang
tak pernah kujumpai.
“Suara guntur
bukan tak bisa membangunkannya. Melainkan suaranya tak berani lebih keras. Karena
kalah merdu dengan suara dengkuran le Miqdad.
He he” paman bergumam pada gadis di dekatnya itu. Paman sengaja mencantumkan
namaku dalam ungkapannya.
“Jadi namanya
Miqdad? Perkenalkan nama saya Falah.” Sejurus kemudian gadis itu menjulurkan
tangannya ke depan. Isyarat perkenalan itu masih saja langeng hingga kini. Dan kalau
saja dia seorang laki-laki. Maka dengan segera aku menyambut perkenalan itu
dengan berjabat tangan. Sayangnya di seorang perempuan yang aku tak halal
menyentuhnya.
Semua pasang
mata bersiap menusukku dengan panah mereka. Busur itu telah di tarik. Aku dihadapkan
antara iya atau tidak. Kalau aku mengacuhkan tangan itu alangkah sombongnya
diriku. Mereka pasti menganggap aku sok suci. Jika aku terima maka berdosalah
aku telah menyentuh seseorang yang bukan muhrim denganku.
Kalau saja dia
bilang dari awal mau berkenalan denganku. Maka aku bersiap-siap untuk melumuri
tanganku dengan tanah. Supaya ada alasan untuk tak menjabatnya. Namun ia serta
merta langsung menjulurkan tangannya. Tangan yang terlihat berkulit sawo matang
itu halus. Tiba-tiba terbayang guratan api menyala pada tangan itu.
“Iya nama saya
Miqdad” kedua telapak tanganku beradu. “Maaf tak bisa menjabat tanganmu. Telapak
tangan ini sedang sakit. Tampaknya ini awal mula sakit kapalan” kusunggingkan senyum pelipur kecewa untuknya.
“Ohh iya. Tidak
apa-apa” ia tarik kembali tangannya dengan sedikit kecewa. Namun kulihat dia
memahami maksudku. Walaupun sebenarnya aku sedikit berbohong.
“Biasanya
pegangan sehari-hari pena dan laptop. Liburan ke tempat paman malah pegang
sabit, cangkul dan lain sebagainya. Wajar saja kalau kapalan.” Paman sambil mengepulkan asap rokok lintingannya. Asapnya lebih tebal dan lebih sesak bila terhirup
daripada rokok pabrikan.
Aku, paman,
Pak Lurah dan gadis bernama Falah semakin hangat bercerita dalam. Gemericik yang
semakin reda. Sementara pria dengan pakaian modis itu hanya diam membisu. Dia seperti
tak ingin berbaur dengan kita. Wajahnya terlihat ingin berbaur dengan kami. Namun
seolah ada yang mengganjal hatinya. Apakah dia membenciku? Tapi kita belum
pernah bertemu sebelumnya. Entahlah, aku sendiri tak berani bertanya dengan
walau sekedar basa-basi dengannya. Tampaknya apatis telah menyusup hatinya. Maybe.







0 komentar:
Post a Comment